Donald Trump Optimistis Selat Hormuz segera Dibuka

Ferdian Ananda Majni
11/4/2026 12:04
Donald Trump Optimistis Selat Hormuz segera Dibuka
Ilustrasi kapal melintasi Selat Hormuz.(Anadolu)

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka dalam waktu dekat. Optimisme itu ia sampaikan meski ketegangan antara Washington dan Teheran belum sepenuhnya mereda dan kedua pihak baru saja memasuki tahap negosiasi di Pakistan.

Dalam pernyataannya, Trump belum mengungkap langkah konkret yang akan diambil untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut. Namun, ia menegaskan adanya dukungan dari negara lain.

"Negara-negara lain menggunakan selat itu. Jadi kami memang punya negara-negara lain yang datang, dan mereka akan membantu," kata Trump dikutip CNN, Sabtu (11/4).

Ia juga mengakui bahwa upaya membuka kembali Selat Hormuz bukan hal yang mudah. Meski demikian, Trump tetap optimistis jalur vital tersebut dapat segera kembali beroperasi.

"Itu tidak akan mudah. Saya akan mengatakan ini, kami akan membuka itu segera," ujarnya.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, dengan sekitar 20 persen pengiriman minyak global dan gas alam cair melintasi kawasan tersebut.  Penutupan jalur ini sejak pecahnya konflik dengan Iran dinilai memicu gangguan besar terhadap pasokan energi global. Dampaknya, harga minyak dunia melonjak dan pasar internasional terguncang, sementara aktivitas pelayaran di kawasan tersebut hingga kini masih belum pulih sepenuhnya.

Di tengah kondisi itu, Trump juga dilaporkan merasa kecewa terhadap sekutu-sekutu NATO yang dinilai belum memberikan kontribusi maksimal dalam upaya pengamanan Selat Hormuz. 

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte disebut telah menyampaikan kepada negara-negara Eropa agar segera memberikan komitmen konkret untuk membantu pengamanan jalur tersebut.

Sebelumnya, Trump sempat mengumumkan gencatan senjata yang masih rapuh dengan Iran. Namun hingga kini, pergerakan kapal melalui Selat Hormuz belum sepenuhnya kembali normal. Ketegangan kawasan meningkat sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Teheran kemudian membalas dengan serangan ke Israel serta pangkalan militer AS di sejumlah negara Teluk. Rangkaian konflik tersebut dilaporkan telah menelan ribuan korban jiwa dan menyebabkan jutaan orang mengungsi, sekaligus memperparah ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah. (E-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya