Saling Blokade Laut Memanas, AS dan Iran Beradu Kekuatan Jelang Potensi Perundingan

Thalatie K Yani
21/4/2026 05:23
Saling Blokade Laut Memanas, AS dan Iran Beradu Kekuatan Jelang Potensi Perundingan
AS sita kapal kargo Iran di tengah blokade Selat Hormuz.(Centcom)

KETEGANGAN di jalur perdagangan laut internasional mencapai titik didih baru. Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) melaporkan telah memerintahkan sedikitnya 27 kapal untuk berputar balik atau kembali ke pelabuhan Iran sejak blokade dimulai. Puncaknya terjadi pada hari Minggu, saat militer AS untuk pertama kalinya menyita sebuah kapal kargo berbendera Iran yang mencoba menerobos barikade tersebut.

Video yang dirilis Centcom memperlihatkan detik-detik pasukan AS melakukan fast-roping ke atas dek kapal setelah peringatan verbal tidak diindahkan. Teheran bereaksi keras atas tindakan ini, menyebutnya sebagai "aksi bajak laut" dan pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata yang rapuh di antara kedua negara.

Krisis Selat Hormuz dan Harga Energi

Di sisi lain, Iran masih mempertahankan blokade mereka di Selat Hormuz selama hampir dua bulan terakhir. Aksi ini telah memicu lonjakan harga energi global secara signifikan. Meski sempat dibuka singkat pada Sabtu, Iran kembali menutup jalur tersebut setelah muncul laporan mengenai penargetan kapal tanker di sekitar selat.

Menanggapi situasi ini, Presiden Donald Trump melontarkan kritik tajam. Ia menyatakan bahwa Iran telah "memutuskan untuk melepaskan peluru" dan menyebut tindakan tersebut sebagai "pelanggaran total" terhadap perjanjian gencatan senjata. Sebaliknya, Iran menegaskan tidak akan membuka jalur tersebut hingga AS menghentikan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan mereka.

Menanti Kepastian di Islamabad

Di tengah eskalasi militer, harapan diplomatik kini tertuju pada Islamabad, Pakistan. Putaran kedua pembicaraan damai dikabarkan akan segera berlangsung, meskipun pihak Teheran belum memberikan konfirmasi resmi mengenai kehadiran delegasi mereka.

Wakil Presiden AS, J.D. Vance, dijadwalkan memimpin delegasi Amerika bersama utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner. Pada putaran pertama, Vance sempat mengeluhkan sikap Iran yang enggan menerima persyaratan AS. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran meminta Washington untuk menahan diri dari "permintaan berlebihan dan tuntutan yang melanggar hukum."

Laporan dari lapangan menunjukkan persiapan besar-besaran di Islamabad. Tamu-tamu di Hotel Serena, lokasi perundingan sebelumnya, telah diminta mengosongkan tempat, dan kepolisian setempat mulai menutup jalan protokol untuk menyambut delegasi asing.

Diplomasi di Ujung Tanduk

Koresponden Internasional Utama BBC, Lyse Doucet, menilai ada tekanan besar bagi Iran untuk hadir. Ia menggarisbawahi aturan tak tertulis dalam diplomasi: jangan sampai menjadi pihak yang disalahkan atas kegagalan sebuah dialog.

"Jika J.D. Vance hadir di Islamabad, akan sangat sulit bagi pihak Iran untuk tidak muncul. Saya rasa saluran telepon terus berdering saat pihak Pakistan berusaha memastikan kedua belah pihak tiba, karena lokasi sudah siap dan pengamanan telah ketat," lapor Doucet dari Teheran.

Meski juru bicara kementerian luar negeri Iran menyatakan "sejauh ini belum ada rencana" untuk hadir, pemerintah Pakistan tetap optimis dapat membujuk Teheran agar duduk di meja perundingan demi meredam gejolak global. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya