Netanyahu Perintahkan Serangan Masif ke Libanon

Thalatie K Yani
26/4/2026 12:08
Netanyahu Perintahkan Serangan Masif ke Libanon
Foto ini, yang diambil dari Israel utara, menunjukkan tank dan kendaraan militer Israel melaju di sepanjang jalan di antara rumah-rumah yang hancur di Lebanon selatan dekat perbatasan dengan Israel, pada 25 April 2026.(AFP)

PERDANA Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara resmi menginstruksikan militer Israel (IDF) untuk melakukan serangan masif terhadap target-target Hizbullah di Libanon. Perintah ini turun hanya berselang dua hari setelah kesepakatan gencatan senjata diperpanjang selama tiga minggu melalui pembicaraan diplomatik di Washington.

Instruksi tersebut memicu gelombang serangan udara baru di wilayah Libanon Selatan, menyusul serangkaian serangan mematikan, Sabtu (25/4), yang menewaskan sedikitnya enam orang. Eskalasi ini semakin mempertegas kerapuhan gencatan senjata yang selama ini hanya berhasil mengurangi intensitas baku tembak, alih-alih menghentikannya sepenuhnya.

Korban Jiwa Berjatuhan di Lebanon Selatan

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan serangan Israel di kota Yohmor al-Shaqeef, Distrik Nabatieh, menewaskan empat orang yang sedang berada di dalam truk dan sepeda motor. Selain itu, serangan di kota Safad al-Battikh, Distrik Bint Jbeil, menelan dua korban jiwa lainnya dan melukai 17 orang.

Pihak IDF mengeklaim telah "mengeliminasi" tiga anggota Hizbullah yang mengendarai kendaraan pengangkut senjata serta seorang pengendara sepeda motor. Mereka juga menyatakan telah menewaskan dua anggota bersenjata lainnya di wilayah Sungai Litani karena dianggap sebagai ancaman bagi tentara Israel yang beroperasi di zona penyangga.

Sebagai balasan, Hizbullah dilaporkan menyerang kendaraan militer Israel di Libanon Selatan sebagai bentuk retaliasi atas serangan di Yohmor al-Shaqeef.

Penargetan Infrastruktur dan Pelanggaran Gencatan Senjata

Menyusul perintah terbaru dari Netanyahu, Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan serangkaian serangan udara cepat di Distrik Bint Jbeil, Tyre, dan Nabatieh. Militer Israel menyatakan serangan tersebut menargetkan infrastruktur teroris Hizbullah yang digunakan untuk tujuan militer.

"IDF akan terus beroperasi secara tegas terhadap ancaman yang diarahkan pada warga sipil Israel dan tentara IDF, sesuai dengan arahan dari eselon politik," tulis pernyataan resmi militer Israel.

Kecaman Internasional atas Serangan Terhadap Jurnalis

Di tengah berkecamuknya konflik, kelompok advokasi pers internasional, Media Freedom Coalition (MFC), mengecam keras kekerasan terhadap pekerja media di Lebanon. Kecaman ini muncul setelah tewasnya jurnalis Amal Khalil dan terlukanya fotografer lepas Zeinab Faraj dalam serangan Israel baru-baru ini.

Pejabat di Libanon menuduh Israel sengaja menargetkan para jurnalis tersebut saat mereka sedang mencari perlindungan. Meskipun MFC yang didukung oleh Inggris dan Finlandia mengutuk kekerasan tersebut, pihak IDF membantah telah menargetkan jurnalis secara sengaja dalam operasi militernya.

Situasi di Libanon Selatan tetap mencekam karena Israel masih menduduki sebagian besar wilayah tersebut dan terus melakukan pembongkaran bangunan dalam skala besar, yang kian menjauhkan harapan akan perdamaian permanen di kawasan tersebut. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya