14 Orang Tewas dalam Serangan Israel ke Libanon, di Tengah Gencatan Senjata

Thalatie K Yani
27/4/2026 08:14
14 Orang Tewas dalam Serangan Israel ke Libanon, di Tengah Gencatan Senjata
Ilustrasi(Media Sosial X)

SITUASI di Libanon Selatan kembali memanas setelah Kementerian Kesehatan Libanon melaporkan serangan udara Israel pada Minggu (26/4) menewaskan sedikitnya 14 orang. Korban tewas termasuk dua orang perempuan dan dua anak-anak, sementara 37 orang lainnya dilaporkan luka-luka.

Serangan ini menyusul peringatan evakuasi yang dikeluarkan juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) untuk beberapa desa di wilayah tersebut. IDF mengklaim operasi udara dan artileri mereka menargetkan lokasi serta agen Hizbullah yang digunakan untuk menyerang tentara Israel. Di sisi lain, IDF melaporkan seorang prajuritnya yang berusia 19 tahun tewas akibat serangan drone Hizbullah.

Gencatan Senjata di Ambang Kehancuran

Meskipun Libanon dan Israel secara teknis berada di bawah gencatan senjata semi-permanen yang berlaku sejak 16 April, kedua belah pihak terus saling lempar tuduhan pelanggaran. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam rapat pemerintah menyatakan tindakan Hizbullah telah "menghancurkan gencatan senjata".

Netanyahu menegaskan militer Israel akan terus bertindak dengan kekuatan penuh berdasarkan kesepakatan pertahanan diri dengan Amerika Serikat.

"Kami bertindak dengan penuh semangat sesuai dengan aturan yang kami sepakati dengan Amerika Serikat, dan secara kebetulan, dengan Libanon juga. Ini berarti kebebasan beraksi, tidak hanya untuk merespons serangan, yang sudah jelas, tetapi juga untuk menggagalkan ancaman segera dan juga menetralisir ancaman yang baru muncul," tegas Netanyahu.

Pada hari Sabtu sebelumnya, Netanyahu secara eksplisit memerintahkan militer untuk menyerang target-target Hizbullah dengan keras, yang mengakibatkan sedikitnya enam orang tewas pada hari yang sama.

Manuver Diplomasi Iran di Tengah Krisis

Di saat eskalasi militer meningkat, jalur diplomasi regional juga terus bergerak. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, kembali ke Pakistan pada hari Minggu untuk merumuskan kerangka kerja guna melanjutkan negosiasi damai dengan Washington.

Upaya damai ini sempat menemui jalan buntu setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana kunjungan utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Islamabad. Meski Gedung Putih mengeklaim Iran ingin berbicara, Teheran bersikeras bahwa tidak pernah ada jadwal pertemuan langsung dengan pihak Amerika Serikat.

Araghchi, yang sebelumnya meragukan keseriusan diplomasi Washington, dijadwalkan terbang ke Moskow pada hari Senin untuk bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Pertemuan tersebut diharapkan dapat membahas langkah-langkah de-eskalasi di tengah rapuhnya gencatan senjata yang baru saja diperpanjang pekan lalu. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya