Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
STRATEGI Amerika Serikat (AS) dan Israel yang berharap serangan militer masif akan memicu revolusi rakyat untuk menggulingkan kekuasaan Ayatullah di Iran tampaknya menemui jalan buntu. Alih-alih runtuh, intensitas perang selama empat minggu terakhir justru dilaporkan menyatukan elit politik dan militer Iran dalam koalisi yang lebih solid dari sebelumnya.
Sebelum perang pecah, Iran berada dalam posisi paling rentan sejak revolusi 1979. Protes nasional pada Januari lalu, yang dipicu oleh krisis ekonomi dan sanksi internasional, telah merambah ke berbagai kelas ekonomi dan etnis. Para pakar menilai, saat itu Iran tinggal selangkah lagi menuju revolusi jika aparat keamanan mulai membelot.
Namun, Jack A. Goldstone, pakar kebijakan publik dari George Mason University, menilai perang telah menjungkirbalikkan proses keruntuhan tersebut. "Kita hampir sampai pada titik di mana rezim tidak lagi dianggap mewakili negara, tetapi intensitas serangan luar telah membuyarkan semua itu," ujarnya.
Kampanye udara Israel dan pembunuhan bertarget terhadap tokoh-tokoh kunci memang melemahkan Iran secara material, kata pakar. Namun, secara politik, hal ini justru menghilangkan ruang bagi kelompok moderat. Siapa pun yang sebelumnya menyuarakan negosiasi atau reformasi kini kehilangan pijakan, sementara kelompok garis keras militer semakin memperkuat kontrol atas negara.
Ray Takeyh dari Council on Foreign Relations menekankan bahwa revolusi hanya bisa terjadi jika ada perpecahan di dalam aparat keamanan (IRGC, militer, dan Basij). Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda pembelotan. "Tanpa keretakan di internal elit dan aparat keamanan, sangat sulit melihat rezim mana pun akan runtuh," tegas Takeyh.
Menurut laporan New York Times yang mengutip mantan pejabat intelijen AS dan Israel, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menerima rencana ambisius Mossad untuk memicu pemberontakan rakyat Iran di awal kampanye militer terhadap 'Negeri para Mullah'. Tetapi Netanyahu sekarang frustasi karena janji-janji tersebut belum terwujud. Pejabat AS dan Israel merasa bahwa kondisi tampaknya belum matang untuk memungkinkan terjadinya perlawanan rakyat.
Netanyahu sebelumnya berharap kekuatan udara dapat memberi ruang bagi rakyat Iran untuk bangkit. Namun, model 'revolusi dari langit' ini dinilai belum teruji. Alex Vatanka dari Middle East Institute menunjukkan perbedaan dengan kasus Libya 2011; di Iran, tidak ada militer yang membelot untuk melindungi demonstran.
Meski infrastruktur ekonomi seperti jaringan listrik dan gas South Pars menjadi sasaran untuk memicu ketidakpuasan rakyat, para ahli memperingatkan bahwa rakyat yang sengsara tetap tidak berdaya melawan aparat yang bersenjata lengkap dan setia. Selama IRGC dan Basij tetap loyal, rezim Iran diprediksi dapat bertahan hingga beberapa dekade ke depan, meski dalam kondisi tidak populer sekalipun.
Kini, pengumuman Trump mengenai potensi pembicaraan untuk mengakhiri perang secara implisit mengakui bahwa skenario regime change (pergantian rezim) mungkin telah gagal, dan rezim Ayatullah tetap menjadi pemegang otoritas di Tehran. (Times of Israel/B-3)
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Pertemuan mungkin masih berlangsung, serta menegaskan proposal tersebut sedang dibahas. Meski demikian, Leavitt menolak berspekulasi lebih jauh.
HARGA minyak dunia terus menunjukkan tren kenaikan meskipun Iran mengajukan proposal untuk mengakhiri blokade di Selat Hormuz.
IRGC bongkar sel tentara bayaran di Azerbaijan Timur, Kerman, & Mazandaran. Ratusan orang ditangkap atas tuduhan spionase dan rencana sabotase ekonomi di Iran
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) resmi memblokade Selat Hormuz. Iran menuding AS melanggar kesepakatan gencatan senjata terkait blokade laut.
Garda Revolusi Iran (IRGC) peringatkan AS bahwa Selat Hormuz kini menjadi "zona bahaya mematikan" bagi kapal militer asing.
IRGC klaim usir dua kapal perusak AS di Selat Hormuz melalui video peringatan, sekaligus membantah pernyataan yang menyebut operasi pembersihan ranjau tetap berjalan sukses.
Militer AS resmi blokade Selat Hormuz dan pelabuhan Iran mulai 13 April 2026. Donald Trump beri peringatan keras, Iran tegaskan tidak akan tunduk.
IRGC tegaskan Iran tak luncurkan rudal selama gencatan senjata dengan AS. Di tengah negosiasi di Islamabad, Israel justru gempur wilayah Libanon selatan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved