Selat Hormuz Masih Tegang, Harga Minyak Dunia Terus Meroket

Ferdian Ananda Majni
28/4/2026 14:40
Selat Hormuz Masih Tegang, Harga Minyak Dunia Terus Meroket
Ilustrasi - Kapal tanker melintas di Selat Hormuz, Iran.(ANTARA/Anadolu)

HARGA minyak dunia terus menunjukkan tren kenaikan meskipun Iran mengajukan proposal untuk mengakhiri blokade di Selat Hormuz sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan dengan Amerika Serikat (AS).

Pada perdagangan Selasa (28/4), minyak mentah Brent Crude Oil naik lebih dari 2%. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar yang belum mereda terkait gangguan pasokan energi global akibat situasi di jalur pelayaran vital tersebut.

Harga Brent tercatat mencapai 110,70 dolar AS per barel pada pukul 07.00 waktu setempat, melonjak lebih dari 12 persen dibandingkan pekan sebelumnya. 

Sebelumnya, harga sempat berada di bawah level 100 dolar AS per barel.

Lonjakan harga terjadi di tengah upaya diplomatik Teheran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dilaporkan menyampaikan usulan untuk membuka kembali Selat Hormuz melalui komunikasi dengan Pakistan. 

Proposal tersebut mencakup penundaan pembahasan isu sensitif terkait program nuklir Iran.

Namun, hingga kini Amerika Serikat belum memberikan tanggapan resmi terhadap tawaran tersebut, sementara ketidakpastian terus membayangi pasar energi.

Selama dua bulan terakhir, ancaman Iran terhadap pelayaran komersial telah menyebabkan lalu lintas di Selat Hormuz menurun drastis. 

Data dari platform intelijen maritim Windward menunjukkan hanya delapan kapal yang melintasi selat itu pada hari Minggu, turun dari 19 kapal sehari sebelumnya.

Padahal, sebelum konflik meningkat pada akhir Februari, rata-rata sekitar 129 kapal melintas setiap hari, demikian laporan UNCTAD.

Gangguan tersebut berdampak signifikan terhadap pasokan energi global. Blokade serta serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan diperkirakan telah memangkas produksi minyak dunia hingga 14,5 juta barel per hari, berdasarkan estimasi Goldman Sachs.

Para pakar di bidang pelayaran dan logistik memperingatkan bahwa pemulihan distribusi energi global tidak akan terjadi dalam waktu singkat. 

Bahkan jika kesepakatan tercapai, proses normalisasi dapat memakan waktu berbulan-bulan karena adanya penumpukan kargo minyak dan gas, kerusakan infrastruktur, serta kebutuhan untuk membersihkan jalur laut dari ranjau. (Anadolu/Fer/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya