Mata Uang Rupiah Melemah ke Rp17.326 Akibat Ketegangan Timur Tengah dan Safe Haven

Media Indonesia
29/4/2026 17:33
Mata Uang Rupiah Melemah ke Rp17.326 Akibat Ketegangan Timur Tengah dan Safe Haven
RUPIAH DITUTUP MENGUAT: Karyawan memperlihatkan pecahan rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang asing (money changer) di ITC Kuningan, Jakarta, Rabu (09/04/2024)(MI/Usman Iskandar.)

NILAI tukar mata uang Rupiah ditutup melemah signifikan pada perdagangan Rabu (29/4/2026). Berdasarkan data pasar, rupiah merosot 83 poin atau 0,48 persen ke level Rp17.326 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.243 per dolar AS.

Pelemahan mata uang Rupiah dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong investor memburu aset aman atau safe haven, terutama dolar AS. Indeks dolar terpantau stabil di level tinggi sekitar 98,6.

Faktor Utama Tekanan Rupiah:
  • Kegagalan Diplomasi: Mandeknya negosiasi perdamaian antara AS dan Iran terkait pembukaan Selat Hormuz.
  • Sentimen Energi: Keputusan Uni Emirat Arab (UEA) keluar dari OPEC dan OPEC+ yang berlaku 1 Mei 2026, memicu ketidakpastian pasokan minyak.
  • Ketidakpastian The Fed: Isu pergantian Ketua Federal Reserve dan potensi kebijakan hawkish (suku bunga tinggi lebih lama).

Dampak Geopolitik dan Harga Energi

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengungkapkan bahwa kemandekan negosiasi AS-Iran telah mengerek harga minyak sejak sesi Asia. "Kekhawatiran terhadap inflasi global semakin meningkat, sehingga menekan mata uang Asia, termasuk mata uang rupiah," ujarnya.

Pihak Washington dilaporkan skeptis terhadap proposal baru Iran karena dianggap menghindari pembahasan program nuklir. Ketegangan di Selat Hormuz ini memicu ekspektasi kenaikan biaya energi yang berujung pada arus modal keluar dari pasar negara berkembang (emerging markets).

Respons Bank Indonesia

Di tengah tekanan eksternal, fundamental ekonomi domestik diklaim tetap solid. Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen untuk menjaga stabilitas. Muhammad Amru Syifa, Research and Development ICDX, menyebut BI aktif melakukan intervensi.

"Bank Indonesia mengandalkan intervensi di pasar spot, serta aktif di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk mengelola ekspektasi pasar tanpa menguras cadangan devisa secara drastis," jelas Amru.

Indikator Kurs (29/4/2026) Nilai
Penutupan Pasar Spot Rp17.326
Kurs JISDOR BI Rp17.324
Pelemahan Harian 0,48% (83 Poin)

Pasar kini cenderung bersikap wait and see menanti rilis data inflasi April dan neraca perdagangan Maret. Meskipun inflasi Maret tercatat melambat ke 3,48 persen, risiko lonjakan tetap terbuka akibat tingginya harga komoditas energi global. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya