Tekanan Global Injak Rupiah ke Rp17.300, BI Pertebal Intervensi Pasar

Andhika Prasetyo
23/4/2026 11:49
Tekanan Global Injak Rupiah ke Rp17.300, BI Pertebal Intervensi Pasar
ilustrasi(Antara)

 

Nilai tukar Rupiah mengalami tekanan luar biasa signifikan hingga sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Kamis 23 April 2026. Pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global yang turut menekan berbagai mata uang di kawasan regional.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menjelaskan bahwa fluktuasi Rupiah hari ini masih bergerak sejalan dengan tren mata uang di kawasan. Secara year-to-date (ytd), Mata Uang Rupiah tercatat mengalami pelemahan sebesar 3,54%.

Strategi Stabilisasi Bank Indonesia

Merespons kondisi tersebut, Bank Indonesia berkomitmen meningkatkan intensitas intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar. BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-market untuk mempertahankan daya tarik aset domestik, terutama di tengah dampak konflik di Timur Tengah yang masih berlanjut.

Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui tiga jalur utama:

  • Pasar Offshore: Intervensi pada Non-Deliverable Forward (NDF).
  • Pasar Domestik: Operasi di pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
  • Pasar Sekunder: Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) untuk menjaga keseimbangan suplai dan permintaan.

Cadangan Devisa Tetap Solid

Meski berada di bawah tekanan eksternal, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih terjaga. Hal ini tercermin dari posisi cadangan devisa yang tetap kuat sebesar USD148,2 miliar pada akhir Maret 2026. Jumlah ini dianggap lebih dari cukup untuk mendukung langkah-langkah stabilisasi nilai tukar ke depan.

Deputi Gubernur Senior BI menegaskan bahwa Bank Indonesia akan senantiasa hadir di pasar. Langkah-langkah yang diambil dipastikan akan tetap konsisten dan terukur guna memastikan stabilitas Mata Uang Rupiah tetap terjaga di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global.

Hingga saat ini, pelaku pasar terus mencermati perkembangan situasi di Timur Tengah dan kebijakan moneter global yang menjadi faktor utama penentu arah pergerakan nilai tukar dalam jangka pendek. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya