Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ANALISIS terbaru mengungkapkan dampak mengerikan dari eskalasi krisis di Timur Tengah terhadap stabilitas ekonomi dunia. Krisis minyak dan gas yang dipicu oleh ketegangan geopolitik tersebut diperkirakan akan membebani perekonomian global hingga US$1 triliun atau setara dengan Rp17 kuadriliun.
Ironisnya, di saat rumah tangga dan pemerintah di seluruh dunia tertatih menghadapi lonjakan biaya hidup, perusahaan-perusahaan minyak raksasa justru meraup keuntungan luar biasa dari tingginya harga bahan bakar. Distribusi risiko dan keuntungan yang timpang ini memicu kekhawatiran mendalam mengenai meningkatnya ketidaksetaraan, kemiskinan, dan kelaparan global.
Berdasarkan analisis organisasi kampanye iklim 350.org terhadap data terbaru Dana Moneter Internasional (IMF), beban harga minyak dan gas akan mencapai sedikitnya US$600 miliar meskipun Selat Hormuz kembali beroperasi normal dalam waktu dekat. Namun, jika gangguan pasokan terus berlanjut, dampaknya diprediksi melonjak melampaui angka US$1 triliun.
Angka tersebut dinilai sebagai perkiraan konservatif karena belum mencakup dampak turunan yang substansial, seperti:
Dalam konferensi transisi bahan bakar fosil di Santa Marta, Kolombia, perwakilan dari berbagai negara mengungkapkan kondisi darurat yang mereka hadapi. Kepulauan Marshall, misalnya, mendeklarasikan keadaan darurat selama 90 hari dan terpaksa menutup kantor pemerintahan lebih awal setiap hari demi menghemat energi.
Di Afrika, situasinya jauh lebih mengkhawatirkan. Wakil Menteri Sumber Daya Alam Malawi, Chipiliro Mpinganjira, menyatakan bahwa lonjakan harga bahan bakar memaksa pemerintah mempertimbangkan pemotongan anggaran pendidikan hanya untuk memenuhi pembayaran utang luar negeri. Sementara itu, Ghana memperingatkan risiko anarki dan protes massa jika krisis ini berlanjut lebih dari enam bulan.
Menanggapi ketimpangan ini, para aktivis dan beberapa pemimpin dunia menyerukan penerapan pajak keuntungan tak terduga (windfall tax) atas kelebihan laba perusahaan minyak. Dana yang terkumpul diusulkan untuk dialokasikan pada:
Kelompok Planetary Guardians mencatat bahwa sebelum konflik memanas, pemerintah di seluruh dunia secara kolektif menghabiskan sekitar US$1,05 triliun per tahun untuk mensubsidi sistem bahan bakar fosil. Mary Robinson, mantan Presiden Irlandia, menegaskan bahwa warga dunia membayar harga ini tiga kali lipat di pompa bensin, melalui pajak, dan melalui kerusakan lingkungan serta kesehatan.
Konferensi di Santa Marta diharapkan menjadi titik balik bagi gerakan keadilan iklim global, mendesak dunia untuk segera melepaskan ketergantungan pada bahan bakar fosil guna menciptakan perdamaian dan stabilitas ekonomi yang lebih berkelanjutan. (Guardian/I-2)
DPR menolak wacana PPN jalan tol. Kebijakan dinilai berpotensi menambah beban masyarakat di tengah kenaikan harga BBM.
Presiden Tiongkok Xi Jinping memperingatkan runtuhnya tatanan internasional. Simak dampak geopolitik terhadap portofolio investasi dan aset alternatif.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez kunjungi Tiongkok untuk perkuat dagang di tengah ketegangan dengan AS. Spanyol dipandang sebagai gerbang strategis ke pasar global.
Wakil Ketua Umum (WKU) Koordinator Bidang Luar Negeri Kadin Indonesia James T. Riady menyoroti dinamika global yang semakin tidak menentu dan menuntut dunia usaha untuk lebih adaptif.
Sinkronisasi pandangan antara pemberi kerja dan buruh merupakan syarat mutlak dalam menghadapi tekanan ekonomi saat ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved