Hubungan AS-Spanyol Renggang, PM Pedro Sanchez Perkuat Aliansi Ekonomi dengan Tiongkok

Haufan Hasyim Salengke
13/4/2026 19:47
Hubungan AS-Spanyol Renggang, PM Pedro Sanchez Perkuat Aliansi Ekonomi dengan Tiongkok
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez (Kiri) berjabat tangan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping (kanan) di Beijing selama kunjungan pada 2023.(Bangkok Post)

PERDANA Menteri (PM) Pedro Sanchez memulai kunjungan tiga hari Tiongkok China, Senin (13/4), untuk memperkuat hubungan dagang, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Donald Trump.

Kunjungan ini menjadi yang keempat bagi Sanchez ke Tiongkok dalam empat tahun terakhir, sekaligus menegaskan upayanya memposisikan Spanyol sebagai jembatan strategis antara Beijing dan Uni Eropa yang beranggotakan 27 negara.

Langkah tersebut diambil saat hubungan Madrid-Washington mengalami tekanan, menyusul kebijakan tarif dan arah politik luar negeri Trump yang dinilai tidak menentu oleh sekutu-sekutu Eropa.

Bahkan, bulan lalu Trump mengancam akan memutus hubungan dagang dengan Spanyol setelah negara itu menolak penggunaan pangkalan militernya untuk serangan AS terhadap Iran, yang juga merupakan mitra ekonomi penting bagi Beijing.

Sumber pemerintah Spanyol menyebut tujuan utama kunjungan ini adalah memperluas akses pasar, khususnya untuk produk pertanian dan industri, serta menjajaki kerja sama investasi di sektor teknologi.

Dalam agenda kunjungannya, Sanchez dijadwalkan mengunjungi kantor pusat Xiaomi dan menghadiri pameran teknologi di Chinese Academy of Sciences. Ia juga akan bertemu Presiden Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Qiang sebelum menggelar konferensi pers bersama.

Neraca Perdagangan 

Meski hubungan ekonomi kedua negara terus berkembang, neraca perdagangan masih timpang. Tahun lalu, Spanyol mencatat defisit perdagangan sebesar 42,3 miliar euro dengan Tiongkok, di mana ekspor Beijing jauh melampaui ekspor Madrid.

Namun, pemerintah Spanyol mencatat ekspor ke Tiongkok meningkat 6,8% pada 2025, didorong oleh hubungan bilateral yang semakin erat. Pada kunjungan sebelumnya April 2025, Beijing juga menyetujui perluasan akses pasar untuk produk Spanyol seperti daging babi dan ceri.

Mitra Penting

Pakar Tiongkok dari  Technical University of Madrid, Claudio Feijoo, menilai 'Negeri Tirai Bambu' melihat 'Negeri Matador' sebagai mitra yang relatif bersahabat.
“Tiongkok memandang Spanyol sebagai negara yang relatif ramah, kurang konfrontatif dibanding negara lain, dan kemungkinan lebih independen dari Washington. Ini memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih otonom,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa posisi geografis dan ekonomi Spanyol menjadikannya strategis bagi investor Tiongkok. “Spanyol juga dipandang sebagai gerbang ke Eropa, Amerika Latin, dan Afrika Utara. Negara ini dapat berfungsi sebagai hub—tempat untuk mengakses berbagai pasar sekaligus,” jelasnya.

Menurut Feijoo, sektor pertanian memiliki potensi besar dalam hubungan dagang kedua negara. Tiongkok tidak dapat memproduksi semua kebutuhan pangan yang dibutuhkannya, atau setidaknya tidak dengan kualitas yang diinginkan penduduknya, sementara Spanyol merupakan produsen utama berbagai komoditas makanan,” katanya.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning, menyebut Spanyol sebagai mitra penting di Uni Eropa. “Spanyol adalah mitra penting Tiongkok di dalam UE. Kunjungan ini menjadi kesempatan untuk meningkatkan hubungan bilateral ke tingkat yang lebih tinggi,” ujarnya.

Hubungan erat kedua negara juga terlihat dari kunjungan kenegaraan Raja Felipe VI dan Ratu Letizia of Spain ke Tiongkok pada November lalu—kunjungan pertama monarki Spanyol dalam 18 tahun. (Bangkok Post/AFP/B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya