Xi Jinping Peringatkan Kekacauan Tatanan Global, Berikut Strategi Investasinya

Wisnu Arto Subari
17/4/2026 09:48
Xi Jinping Peringatkan Kekacauan Tatanan Global, Berikut Strategi Investasinya
Donald Trump dan Xi Jinping.(Al Jazeera)

PRESIDEN Tiongkok Xi Jinping mengeluarkan salah satu peringatan paling keras mengenai kondisi ekonomi global pada Selasa di Beijing. Ia menyatakan bahwa tatanan internasional saat ini sedang berada di ambang keruntuhan menuju kekacauan sistemik.

Xi juga melontarkan kritik tajam terhadap respons Amerika Serikat terkait konflik Iran. Ia menyebut blokade angkatan laut di Selat Hormuz sebagai tindakan yang berbahaya dan tidak bertanggung jawab. Langkah tersebut dinilai mengancam stabilitas salah satu jalur pengiriman minyak paling vital di dunia.

Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi konflik Iran yang terus meningkat meski berada dalam gencatan senjata yang rapuh. Dengan harga minyak yang berfluktuasi di kisaran US$100 per barel, dampak ekonominya mulai meluas. Pertumbuhan ekspor Tiongkok pun tertahan di angka 2,5%, sebuah penurunan tajam yang dipicu oleh melemahnya permintaan global dan meningkatnya ketegangan geopolitik.

Fragmentasi Pasar dan Risiko Portofolio

Bagi para investor, pesan dari Beijing ini melampaui isu geopolitik dan menyentuh struktur fundamental portofolio. Ketika kekuatan besar seperti Tiongkok mulai mempertanyakan tatanan global, hal ini menandakan pergeseran menuju fragmentasi sistem pasar yang mendasari ekonomi dunia.

Menurut Economist Intelligence Unit, langkah-langkah ekonomi dan keuangan yang bersifat menghukum antara Tiongkok dan AS telah secara signifikan merusak perekonomian kedua belah pihak. Rantai pasokan kini tidak lagi hanya sekadar jalur distribusi, melainkan telah berubah menjadi alat tawar-menawar politik.

Kondisi ini menciptakan celah pada fondasi hubungan ekonomi yang selama ini diandalkan investor. Sebagai contoh, korelasi tradisional antara saham dan obligasi yang biasanya bergerak berlawanan arah kini mulai runtuh. Dalam guncangan inflasi, keduanya dapat jatuh secara bersamaan, membuat pasar menjadi jauh lebih sulit diprediksi.

Siklus Gangguan Menurut Ray Dalio

Investor miliarder Ray Dalio berpendapat bahwa gangguan ini bukanlah kejadian acak, melainkan bagian dari siklus besar yang logis. Melalui unggahan di media sosial X pada 14 April 2026, Dalio menjelaskan bahwa sistem ekonomi berkembang, tertekan, dan akhirnya memperbaiki diri sendiri.

"Jika suatu ekonomi memburuk, mereka yang bertanggung jawab akan melakukan perubahan kebijakan yang diperlukan atau mereka akan digantikan," tulis Dalio. Ia menekankan bahwa strategi klasik seperti portofolio 60/40 (saham dan obligasi) kini menghadapi tantangan besar, serupa dengan kegagalan yang terjadi pada tahun 2008 dan 2022.

Strategi Bertahan: Melirik Aset Alternatif

Ketika pasar lebih didorong oleh keputusan politik dibandingkan fundamental ekonomi, diversifikasi tradisional tidak lagi menawarkan perlindungan yang memadai. UBS Asset Management menyarankan investor untuk melihat melampaui saham dan obligasi menuju aset alternatif.

Berikut beberapa instrumen yang dianggap mampu bertahan di tengah volatilitas:

Jenis Aset Keunggulan di Masa Krisis
Emas Berperan sebagai penyimpan nilai (store of value) dan lindung nilai terhadap inflasi karena nilai intrinsiknya yang tidak terikat kebijakan moneter negara mana pun.
Properti/Real Estate Memiliki garis waktu yang lebih stabil dan didorong oleh permintaan kebutuhan dasar manusia, bukan sekadar berita utama pasar keuangan.
Perumahan Sewa Mampu memberikan pendapatan tetap (passive income) bahkan selama periode volatilitas pasar yang luas.

Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, kemampuan untuk beradaptasi dengan melihat aset yang berkinerja independen dari arah pasar menjadi kunci bagi investor untuk melindungi kekayaan mereka dari guncangan geopolitik yang tidak terduga. (Moneywise/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya