Donald Trump Bahas Proposal Iran Buka Selat Hormuz, Blokade AS Jadi Syarat Utama

Ferdian Ananda Majni
28/4/2026 17:30
Donald Trump Bahas Proposal Iran Buka Selat Hormuz, Blokade AS Jadi Syarat Utama
bendera Iran dan AS(X)

PRESIDEN Donald Trump bersama tim keamanan nasionalnya pada Senin (27/4) membahas proposal Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, dengan syarat Amerika Serikat (AS) mencabut blokade dan konflik yang telah berlangsung selama dua bulan diakhiri. Informasi ini dikonfirmasi oleh sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt.

Menurut laporan Axios, proposal tersebut juga mencakup penundaan pembahasan terkait program nuklir Iran ke waktu yang lebih lanjut. Namun, belum dapat dipastikan apakah Trump akan mempertimbangkan tawaran tersebut, mengingat ia sebelumnya menegaskan tidak akan mencabut blokade sebelum kesepakatan dengan Iran benar-benar tuntas.

"Saya akan mengkonfirmasi bahwa presiden telah bertemu dengan tim keamanan nasionalnya pagi ini," kata Leavitt dalam konferensi pers dilansir CNBC, Selasa (28/4).

Ia menambahkan bahwa pertemuan mungkin masih berlangsung, serta menegaskan proposal tersebut sedang dibahas. Meski demikian, Leavitt menolak berspekulasi lebih jauh.

"Saya tidak ingin mendahului presiden atau tim keamanan nasionalnya, garis merah presiden sehubungan dengan Iran telah dibuat sangat, sangat jelas," sebutnya.

"Saya tidak mengatakan bahwa mereka sedang mempertimbangkan tawaran tersebut. Anda pasti akan mendengar langsung dari presiden tentang topik ini, segera," tambahnya.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Marco Rubio dalam wawancara dengan Fox News tampak meremehkan proposal Iran.

"Yang mereka maksud dengan membuka selat adalah, Ya, selat terbuka, selama Anda berkoordinasi dengan Iran, mendapatkan izin kami, atau kami akan meledakkan Anda dan Anda membayar kami," ujarnya.

"Itu bukan membuka selat. Itu adalah jalur air internasional, kami tidak dapat mentolerir upaya mereka untuk menormalisasi sistem di mana Iran memutuskan siapa yang berhak menggunakan jalur air internasional," tegasnya.

Pemerintahan Trump terus menegaskan bahwa tujuan utama konflik ini adalah mencegah Iran memiliki senjata nuklir. "Semuanya akan menjadi hal kecil dibandingkan dengan itu, jika mereka pernah diberi senjata nuklir," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

Namun, jalur diplomasi kembali menemui hambatan. Trump membatalkan rencana pertemuan antara Jared Kushner dan utusan khusus Steve Witkoff dengan pejabat Iran di Pakistan. Dia menyebut alasan pembatalan sebagai pemborosan waktu.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah lebih dulu meninggalkan Islamabad setelah hanya bertemu dengan pejabat Pakistan. Trump kemudian mengungkapkan bahwa Iran sempat mengirimkan proposal baru yang disebutnya jauh lebih baik.

"Mereka memberi kami dokumen yang seharusnya lebih baik, dalam waktu 10 menit, kami mendapat dokumen baru yang jauh lebih baik," katanya sebelum bertolak dengan Air Force One, demikian menurut laporan Bloomberg.

Pembatalan tersebut menghentikan peluang putaran kedua perundingan damai. Sebelumnya, Kushner, Witkoff, dan Wakil Presiden JD Vance telah menghabiskan waktu sekitar 21 jam bernegosiasi di Islamabad tanpa mencapai kesepakatan.

Meski gencatan senjata masih berlaku setelah diperpanjang secara sepihak oleh Trump, kedua pihak tetap berupaya memperkuat posisi masing-masing.

Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam konflik ini, mengingat jalur tersebut biasanya mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dunia. Penutupan jalur ini secara de facto oleh Iran telah memicu lonjakan harga energi global.

Sebagai respons, Amerika Serikat memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Komando Pusat AS melaporkan bahwa setidaknya 38 kapal telah dihentikan atau dipaksa berbalik hingga Minggu (26/4) malam. (Fer/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya