Libanon-Israel Gelar Dialog Diplomatik Perdana dalam 30 Tahun

Thalatie K Yani
15/4/2026 04:34
Libanon-Israel Gelar Dialog Diplomatik Perdana dalam 30 Tahun
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio(Media Sosial X)

UNTUK pertama kalinya dalam lebih dari tiga dekade, perwakilan pemerintah Libanon dan Israel duduk bersama dalam sebuah pembicaraan diplomatik tingkat tinggi di Washington, Amerika Serikat. Pertemuan langka ini dimediasi langsung oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, sebagai upaya untuk mengakhiri konflik bersenjata antara militer Israel dan kelompok Hizbullah.

Sekretaris Negara AS, Marco Rubio, menyebut pertemuan ini sebagai "kesempatan bersejarah" untuk memutus rantai pengaruh Hizbullah di kawasan tersebut. Meskipun kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik resmi, AS menyatakan kedua belah pihak telah mendiskusikan kemungkinan negosiasi langsung di masa mendatang.

"Ini adalah sebuah proses. Ini akan memakan waktu, namun kami yakin upaya ini sangat berharga," ujar Rubio dalam konferensi pers sebelum pertemuan dimulai. "Ini adalah pertemuan bersejarah yang kami harap dapat terus dikembangkan."

Agenda Utama: Pelucutan Senjata dan Krisis Kemanusiaan

Dalam pertemuan tersebut, Israel menegaskan posisinya untuk melucuti senjata seluruh kelompok teror non-negara, merujuk langsung pada kekuatan militer Hizbullah di Libanon. Di sisi lain, delegasi Libanon mendesak dilakukannya gencatan senjata segera guna menangani krisis kemanusiaan yang kian memburuk.

Berdasarkan data terbaru, lebih dari 2.000 jiwa telah melayang sejak operasi militer Israel di Libanon dimulai pada 2 Maret lalu. Selain korban jiwa, konflik ini juga telah memaksa sekitar satu juta orang meninggalkan rumah mereka.

Presiden Libanon, Joseph Aoun, menyatakan harapannya agar pembicaraan ini menjadi titik balik bagi penderitaan rakyatnya.

"Kami berharap pembicaraan ini menandai awal dari berakhirnya penderitaan rakyat Libanon secara umum, dan mereka yang berada di wilayah selatan pada khususnya," ujar Aoun dalam pernyataan resminya.

Ia menekankan solusi satu-satunya bagi konflik ini adalah dengan menjadikan Angkatan Bersenjata Libanon sebagai satu-satunya otoritas yang bertanggung jawab atas keamanan wilayah tersebut.

Hizbullah Menolak Hasil Kesepakatan

Meski pembicaraan diplomatik berlangsung di Washington, situasi di lapangan tetap memanas. Hizbullah mengklaim telah meluncurkan sedikitnya 24 serangan terhadap pasukan Israel saat pertemuan berlangsung.

Kelompok yang didukung Iran tersebut secara tegas menolak hasil diplomasi apa pun yang dilakukan di Washington. 

Tantangan terbesar bagi pemerintah Libanon saat ini adalah keterbatasan kapasitas mereka untuk menghadapi pengaruh Hizbullah yang telah mengakar kuat secara militer maupun politik di Libanon sejak 1982.

Pertemuan ini merupakan kontak tingkat tinggi pertama antara Libanon dan Israel sejak 1993. Meski jalan menuju perdamaian masih panjang dan penuh hambatan, dialog ini menjadi sinyal penting bagi peta geopolitik Timur Tengah di masa depan. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya