Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump, kini berada di titik krusial dalam menentukan kebijakan terhadap Iran. Keputusan untuk memerintahkan serangan udara akan sangat bergantung pada penilaian dua utusan khususnya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, mengenai keseriusan Teheran dalam melepaskan ambisi senjata nuklirnya.
Hingga saat ini, Trump belum menetapkan keputusan final. Namun, ketegangan meningkat menjelang putaran negosiasi yang disebut sebagai "upaya terakhir" yang dijadwalkan berlangsung Kamis ini di Jenewa. Jika kesepakatan gagal tercapai, Trump dilaporkan mempertimbangkan serangan terbatas untuk menekan Iran, atau bahkan serangan skala besar guna memicu perubahan rezim.
Laporan dari internal administrasi menyebutkan penilaian Witkoff dan Kushner akan menjadi faktor penentu kalkulasi Trump. Di satu sisi, Witkoff menegaskan arahan Trump adalah memastikan Iran tidak memiliki kemampuan pengayaan nuklir sama sekali. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara tegas menyatakan Teheran belum siap melepaskan kemampuan tersebut.
Sebagai langkah antisipasi, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pada 28 Februari untuk melaporkan hasil negosiasi tersebut.
Meski opsi militer terus dimatangkan melalui berbagai pengarahan di White House Situation Room, terdapat perdebatan di internal penasihat Trump. Wakil Presiden JD Vance dilaporkan telah mempertanyakan risiko suksesnya serangan ini kepada Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine.
Kekhawatiran utama militer AS berpusat pada rendahnya stok sistem anti-rudal. Pengalaman tahun lalu menunjukkan AS harus menembakkan 30 rudal Patriot, penggunaan tunggal terbesar dalam sejarah AS, hanya untuk mencegat serangan balik Iran setelah pengeboman situs nuklir. Kali ini, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah bersumpah akan membalas lebih keras, bahkan mengancam akan menenggelamkan kapal perang AS.
Guna memberikan tekanan maksimal, Amerika Serikat telah mengumpulkan konsentrasi kekuatan udara terbesar di Timur Tengah sejak invasi Irak tahun 2003. Kapal induk tercanggih, USS Gerald Ford, dijadwalkan tiba dalam beberapa hari untuk bergabung dengan puluhan jet tempur siluman F-35, F-22, dan pesawat pengebom strategis yang sudah bersiaga.
Pengerahan ini memberi Trump opsi untuk menjalankan kampanye udara jangka panjang. Jauh lebih luas dibandingkan serangan terbatas musim panas lalu yang menyasar situs pengayaan di Fordow, Isfahan, dan Natanz.
Di tengah ancaman konflik bersenjata, beberapa pejabat administrasi masih berupaya mencari "jalan keluar" damai, termasuk gagasan untuk mengizinkan Iran mempertahankan kemampuan pengayaan nuklir terbatas hanya untuk tujuan medis dan energi sipil. (The Guardian/Z-2)
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Pertemuan mungkin masih berlangsung, serta menegaskan proposal tersebut sedang dibahas. Meski demikian, Leavitt menolak berspekulasi lebih jauh.
HARGA minyak dunia terus menunjukkan tren kenaikan meskipun Iran mengajukan proposal untuk mengakhiri blokade di Selat Hormuz.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memperingatkan risiko besar jika bantuan senjata dan atensi diplomatik AS beralih sepenuhnya ke konflik Iran.
Amerika Serikat dan Iran kembali berunding di Jenewa dengan mediasi Oman di tengah pengerahan militer besar-besaran AS. Presiden Donald Trump membuka peluang diplomasi.
SUATU dokumen FBI pada 2020 yang termasuk dalam berkas Epstein menuduh bahwa miliarder paedofil Jeffrey Epstein dilatih sebagai mata-mata di bawah mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak.
Mengenal Jared Kushner, sosok di balik Abraham Accords yang kini mengusulkan rencana ambisius rekonstruksi Gaza melalui Board for Peace.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved