Trump Pilih Blokade Ekonomi Iran ketimbang Opsi Militer

Ferdian Ananda Majni
29/4/2026 13:15
Trump Pilih Blokade Ekonomi Iran ketimbang Opsi Militer
Ilustrasi.(Freepik)

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan telah mengarahkan para ajudannya untuk bersiap menghadapi kemungkinan blokade berkepanjangan terhadap Iran. Langkah ini diambil sebagai strategi untuk menekan Teheran tanpa harus terlibat dalam konfrontasi militer skala penuh.

Laporan dari The Wall Street Journal yang mengutip sejumlah pejabat AS pada Selasa (28/4) menyebutkan bahwa dalam beberapa pertemuan terakhir, Trump memilih untuk tetap menekan perekonomian Iran secara agresif. Fokus utama blokade ini Ialah sektor ekspor minyak dengan cara membatasi ketat arus pengiriman barang ke dan dari pelabuhan-pelabuhan utama Iran.

Menghindari Risiko Perang Terbuka

Para pejabat tinggi di Gedung Putih mengungkapkan bahwa Trump menilai opsi serangan militer lanjutan atau penarikan diri sepenuhnya dari konflik memiliki risiko geopolitik yang jauh lebih besar. Blokade ekonomi dianggap sebagai jalan tengah untuk melemahkan posisi tawar Iran di kawasan.

Ketegangan antara kedua negara mencapai titik didih sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Sebagai respons, Teheran melakukan serangkaian serangan balasan terhadap berbagai target yang dianggap sebagai kepentingan AS di kawasan, termasuk di sejumlah negara Teluk.

Kronologi Ketegangan AS-Iran (2026):
  • 28 Februari: Serangan gabungan AS dan Israel ke wilayah Iran.
  • 8 April: Pengumuman gencatan senjata sementara dengan mediasi Pakistan.
  • 11-12 April: Pertemuan di Islamabad berakhir buntu tanpa kesepakatan formal.
  • 27 April: Trump memberi sinyal penolakan terhadap proposal terbaru dari Teheran.

Kebuntuan Negosiasi dan Isu Selat Hormuz

Upaya diplomatik yang dimediasi oleh Pakistan sejauh ini belum membuahkan hasil signifikan. Meskipun gencatan senjata sempat diperpanjang, pembicaraan lanjutan di Islamabad gagal mencapai titik temu terkait program nuklir Iran.

Pada Senin (27/4), Trump memberikan sinyal kuat bahwa dirinya kemungkinan besar tidak akan menerima proposal terbaru yang diajukan Teheran. Dalam usulan tersebut, Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas internasional. Namun mereka meminta penundaan pembahasan terkait program nuklir ke tahap negosiasi berikutnya.

Dengan kebijakan blokade ini, Amerika Serikat berharap dapat memaksa Iran kembali ke meja perundingan dengan posisi yang lebih lemah, sembari memastikan stabilitas pasokan energi global tidak terganggu oleh penutupan jalur maritim strategis tersebut. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya