Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEORANG diplomat di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mohamad Safa, secara mengejutkan mengumumkan pengunduran dirinya pada Jumat (27/3). Langkah ini diambil sebagai bentuk protes sekaligus upaya untuk membocorkan informasi terkait dugaan persiapan skenario penggunaan senjata nuklir terhadap Iran oleh badan internasional tersebut.
Mohamad Safa merupakan perwakilan PBB untuk Patriotic Vision Association (PVA), sebuah organisasi nonpemerintah yang memegang status konsultatif khusus dengan Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (Ecosoc). Dalam pernyataannya, Safa mengeklaim bahwa sejumlah tokoh senior di PBB kini lebih melayani kepentingan lobi-lobi kuat ketimbang menjalankan misi asli organisasi tersebut.
Melalui unggahan di media sosial yang menyertakan foto ibu kota Iran, Safa mengingatkan dunia tentang dampak kemanusiaan yang mengerikan jika perang nuklir benar-benar terjadi. Ia menekankan bahwa Teheran adalah kota metropolitan dengan hampir 10 juta penduduk, bukan sekadar wilayah gurun tanpa penghuni.
"Ada keluarga, anak-anak, dan orang-orang kelas pekerja biasa dengan mimpi di sana. Anda sakit jiwa jika menginginkan perang," tegas Safa. Ia menambahkan bahwa keputusannya meninggalkan karier diplomatik bertujuan agar dirinya tidak menjadi bagian atau saksi dari kejahatan terhadap kemanusiaan tersebut.
"Bayangkan mengebom Washington, Berlin, Paris, London, atau lebih jauh lagi dengan senjata nuklir," katanya. "Saya rasa orang-orang tidak memahami betapa seriusnya situasi ini karena PBB sedang mempersiapkan kemungkinan penggunaan senjata nuklir di Iran. Saya meninggalkan karier diplomatik saya untuk membocorkan informasi ini," tambahnya.
Kekhawatiran Safa sejalan dengan pernyataan pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Direktur Regional WHO, Hanan Balkhy, mengungkapkan kepada Politico bahwa pihaknya sedang mempersiapkan skenario terburuk terkait bencana nuklir jika eskalasi antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus meningkat.
Balkhy menekankan bahwa insiden nuklir akan membawa konsekuensi lintas generasi yang berlangsung selama beberapa dekade. Persiapan WHO mencakup mitigasi terhadap serangan pada fasilitas nuklir hingga kemungkinan penggunaan senjata nuklir secara langsung.
Senada dengan hal tersebut, mantan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan peraih Nobel, Mohamed ElBaradei, juga memberikan peringatan keras. "Jika Anda memiliki pemimpin gila dan mereka merasa kalah, saya tidak mengesampingkan (kemungkinan penggunaan senjata nuklir)," ujarnya kepada Middle East Eye.
"Apakah saya harus sepenuhnya mengesampingkannya? Tidak. Apakah saya berdoa setiap malam agar hal itu tidak terjadi? Ya," tambahnya.
Di sisi lain, tekanan internasional memicu perdebatan internal di Teheran. Beberapa politisi Iran mulai menyuarakan agar negara tersebut keluar dari Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT). Hal ini menyusul meningkatnya serangan terhadap situs nuklir sipil mereka.
Ebrahim Rezaei, juru bicara komisi keamanan nasional parlemen Iran, menyatakan bahwa bertahan dalam NPT mungkin tidak lagi memberikan manfaat bagi keamanan nasional Iran. Sebagai informasi, Iran telah menjadi anggota NPT sejak 1970 dan secara hukum terikat untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.
Baca juga: Panduan Mitigasi Perang Nuklir untuk Keluarga Indonesia Bertahan Hidup
| Status Perjanjian Nuklir | Iran | Israel |
|---|---|---|
| Anggota NPT | Ya (Sejak 1970) | Tidak |
| Kewajiban Hukum | Terikat Verifikasi Internasional | Tidak Terikat NPT |
Situasi di Timur Tengah kini berada pada titik nadir. Pengunduran diri Mohamad Safa menjadi sinyal merah bagi komunitas internasional mengenai potensi bencana global yang lebih besar. (I-2)
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Pertemuan mungkin masih berlangsung, serta menegaskan proposal tersebut sedang dibahas. Meski demikian, Leavitt menolak berspekulasi lebih jauh.
HARGA minyak dunia terus menunjukkan tren kenaikan meskipun Iran mengajukan proposal untuk mengakhiri blokade di Selat Hormuz.
Dua teknisi pesawat F-15 Israel didakwa atas spionase untuk Iran. Mereka diduga membocorkan dokumen mesin pesawat dan memantau pejabat tinggi.
Tuan Guru Bajang (TGB) menegaskan dukungan untuk Iran melawan Zionis didasari nilai kemanusiaan, hukum internasional, dan tuntunan agama Al-Quran.
Konflik bersenjata di Iran akibatkan kerusakan masif pada 56 situs warisan budaya, 30 universitas, dan 55 perpustakaan. Simak dampak terhadap identitas nasional.
Profesor Mohammad Marandi mengungkap penyebab kegagalan negosiasi Iran-AS di Islamabad, dampak blokade Selat Hormuz, dan ancaman krisis energi global.
Presiden Donald Trump mengeklaim perang AS di Iran bertujuan mencegah serangan nuklir terhadap Israel dan AS. Simak detail serangan pembom B-2 ke situs pengayaan uranium.
Arab Saudi berhasil memulihkan kapasitas penuh jalur pipa minyak Timur-Barat sebesar 7 juta barel per hari setelah serangan yang sempat mengganggu produksi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved