Trump Ungkap Alasan Perangi Iran, Takut Bom Nuklir Serang Israel-AS

Wisnu Arto Subari
13/4/2026 10:16
Trump Ungkap Alasan Perangi Iran, Takut Bom Nuklir Serang Israel-AS
Donald Trump.(Al Jazeera)

PRESIDEN Donald Trump mengungkapkan alasan utama di balik keterlibatan militer Amerika Serikat dalam perang dengan Iran. Dalam wawancara telepon dengan Fox News, Trump menegaskan bahwa langkah tersebut diambil karena kekhawatiran mendalam bahwa Iran akan menggunakan senjata nuklir untuk menyerang Israel dan pada akhirnya menargetkan Amerika Serikat.

Klaim Ancaman Nuklir Satu Bulan

Trump mengeklaim bahwa Iran sebenarnya hanya berjarak satu bulan dari pengembangan senjata nuklir fungsional. Menurutnya, bencana tersebut berhasil dicegah berkat perang 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni lalu yang berhasil menghancurkan tiga situs pengayaan uranium utama di Iran.

"Sangat mudah. Ini pertanyaan termudah yang Anda ajukan sejauh ini. Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir. Mereka memiliki nuklir, mereka ingin memperkaya lebih banyak lagi," ujar Trump. Ia menambahkan bahwa tanpa serangan tersebut, Iran akan memiliki senjata nuklir dalam waktu singkat.

Operasi Pengebom B-2 dan Target Strategis

Trump memberikan detail mengenai operasi militer yang dilakukan untuk melumpuhkan kemampuan nuklir Teheran. Ia memuji efektivitas pesawat pengebom siluman B-2 milik Angkatan Udara AS dalam operasi tersebut.

"Pengebom B-2 yang indah itu benar-benar melenyapkan tiga target mereka. Situs-situs itu sekarang terkubur jauh di dalam bumi dengan berton-ton batu," kata Trump. Ia meyakini bahwa jika senjata nuklir tersebut berhasil dibuat, Iran tidak akan ragu untuk menggunakannya di Timur Tengah, dengan Israel sebagai target pertama.

Analisis Ancaman: Trump berpendapat bahwa satu senjata nuklir saja dapat menyebabkan kerusakan yang belum pernah dilihat dan mampu menyapu bersih wilayah tersebut sebelum akhirnya mengancam daratan Amerika Serikat.

Eskalasi di Kawasan Teluk

Membahas jalannya perang, Trump menyebut Iran, "Menjadi gila," ketika menyerang negara-negara tetangga di kawasan Teluk yang dianggap netral. Ia mencatat bahwa Iran meluncurkan sekitar 1.800 rudal ke Emirat Arab serta serangan besar-besaran ke Arab Saudi, Qatar, dan Bahrain.

Namun, Trump menilai agresi Iran tersebut justru menguntungkan posisi AS. "Mereka semua segera bergabung dengan kita. Mereka antara merasa ketakutan atau bergabung dan mereka semua bergabung serta sangat membantu," klaimnya.

Kontradiksi dengan Laporan Intelijen

Meskipun Trump memberikan peringatan keras sejak pidato State of the Union pada 24 Februari--saat ia menyebut Iran sedang mengerjakan rudal yang akan segera mencapai AS--data intelijen menunjukkan gambaran yang berbeda.

Sumber Data Estimasi Kemampuan ICBM Iran
Defense Intelligence Agency (2025) Baru siap pada tahun 2035
Laporan Independen (Bantuan Asing) Minimal 8 tahun lagi (dengan bantuan Tiongkok/Korut)
U.S. Intelligence Agencies (via NYT) Masih bertahun-tahun lagi untuk mencapai daratan AS

Laporan dari Defense Intelligence Agency (DIA) tahun 2025 menunjukkan tidak ada perubahan signifikan dalam penilaian mereka. Para ahli menyatakan bahwa mengubah kendaraan peluncur satelit (SLV) menjadi rudal balistik antarbenua (ICBM) yang layak secara militer membutuhkan waktu yang jauh lebih lama daripada yang diklaim oleh presiden.

Hingga saat ini, badan intelijen AS menyatakan belum menemukan bukti kuat bahwa Iran mengembangkan rudal dengan kemampuan mencapai wilayah Amerika Serikat, meskipun mereka tetap mewaspadai adanya perkembangan intelijen baru yang mungkin belum terungkap ke publik. (Daily Express/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya