AS-Israel Serang Iran: 56 Situs Bersejarah dan Puluhan Universitas Hancur

Ferdian Ananda Majni
15/4/2026 10:39
AS-Israel Serang Iran: 56 Situs Bersejarah dan Puluhan Universitas Hancur
Militer Iran.(Al Jazeera)

PERANG yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel di Iran dilaporkan menimbulkan dampak luas terhadap sektor budaya, pendidikan, serta penelitian ilmiah. 

Meski Washington dan Tel Aviv menyatakan bahwa serangan difokuskan pada target militer, data dari pemerintah Iran menunjukkan kerusakan signifikan pada berbagai fasilitas sipil.

Laporan media lokal menyebutkan sedikitnya 56 situs warisan budaya, 30 universitas, dan 55 perpustakaan mengalami kerusakan sejak konflik dimulai. 

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Iran Reza Salehi Amiri menyebut kehancuran tersebut sebagai serangan yang disengaja terhadap identitas nasional.

Dalam wawancaranya, ia menegaskan, serangan yang disengaja dan sadar telah menghantam warisan budaya Iran.

Serangan pertama dalam konflik ini dilaporkan terjadi pada 28 Februari, ketika sekolah dasar putri di Minab menjadi sasaran rudal. 

Insiden tersebut menewaskan sedikitnya 170 orang, mayoritas anak perempuan berusia antara tujuh hingga 12 tahun. 

Presiden AS saat itu, Donald Trump, sempat membantah keterlibatan negaranya. Namun, hasil investigasi sejumlah organisasi media dan kelompok hak asasi manusia, termasuk Amnesty International, menyimpulkan bahwa serangan kemungkinan dilakukan secara sengaja dengan menggunakan rudal Tomahawk buatan AS.

Di sektor pendidikan tinggi, serangan dilaporkan menargetkan sedikitnya 30 universitas di berbagai wilayah Iran. Salah satunya ialah Universitas Sains dan Teknologi Iran di Teheran yang mengalami kerusakan berat pada akhir Maret, termasuk hancurnya salah satu pusat penelitian satelit domestik.

Serangan juga menyasar Universitas Shahid Beheshti, termasuk Institut Penelitian Laser dan Plasma. Pihak universitas mengecam aksi tersebut sebagai ancaman terhadap dunia akademik. 

Dalam pernyataannya disebutkan, tindakan permusuhan ini tidak hanya menargetkan keamanan akademisi dan lingkungan ilmiah negara, tetapi juga merupakan serangan nyata terhadap akal sehat, penelitian, dan kebebasan berpikir.

Menteri Sains, Riset, dan Teknologi Iran, Hossein Simaei Saraf, menilai serangan terhadap institusi pendidikan sebagai kemunduran besar bagi peradaban.

"Menyerang universitas dan pusat penelitian berarti kembali ke Zaman Batu," katanya dikutip Al Jazeera, Rabu (15/4).

Fasilitas ilmiah penting lain seperti Institut Pasteur di Teheran, yang beroperasi lebih dari satu abad, turut terdampak. 

Sementara itu, Universitas Teknologi Sharif mengalami kerusakan parah akibat serangan pada 6 April.

Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref, menuduh penggunaan bom penghancur bunker dalam serangan tersebut. 

"Serangan bom penghancur bunker di Universitas Sharif adalah simbol kegilaan dan ketidaktahuan Trump," katanya.

"Dia gagal memahami bahwa pengetahuan Iran tidak tertanam dalam beton untuk dihancurkan oleh bom; benteng sejati adalah kemauan para profesor dan elit kita," jelas Aref.

Selain sektor pendidikan, kerusakan juga meluas ke perpustakaan dan situs bersejarah. Setidaknya 55 perpustakaan dilaporkan rusak, termasuk dua yang hancur total. 

Di sektor budaya, puluhan situs bersejarah ikut terdampak, termasuk Istana Golestan dan Grand Bazaar Tehran.

Kerusakan juga terjadi di luar Teheran, seperti di Isfahan yang mencakup Istana Chehel Sotoun dan Masjid Jame. Menurut UNESCO, masjid tersebut merupakan representasi perkembangan arsitektur Islam Iran selama lebih dari 12 abad.

Menanggapi kerusakan tersebut, Amiri menegaskan bahwa pemulihan tidak akan mampu mengembalikan nilai historis yang hilang.

"Restorasi, sesempurna apa pun, tidak akan pernah dapat mengembalikan artefak ke titik awalnya," ucapnya.

"Ketika Anda kehilangan batu asli istana Qajar atau ubin abad ke-17 dari masjid Isfahan, Anda kehilangan lapisan sejarah fisik yang tidak dapat dibuat lagi. Setiap retakan adalah bekas luka permanen," lanjutnya.

Badan UNESCO sendiri telah mengonfirmasi adanya kerusakan pada sejumlah situs bersejarah di Iran. 

Sebelumnya, lembaga tersebut membagikan koordinat lokasi warisan budaya kepada semua pihak untuk mencegah kerusakan selama konflik.

Sejumlah analis menilai serangan terhadap sektor pendidikan dan budaya merupakan bagian dari strategi yang lebih luas. 

Ali Vaez dari International Crisis Group menyebut tujuan utama serangan adalah melemahkan kapasitas pembangunan Iran.

Ia menjelaskan bahwa langkah tersebut bertujuan mencegah rekonstruksi negara. Namun, ia juga menekankan, peradaban yang bertahan selama beberapa milenium tidak dapat dihapus dengan pengeboman udara.

Sementara itu, Christopher Featherstone menilai pendekatan komunikasi pemerintah AS dalam konflik ini berbeda dari sebelumnya. 

Dia mengatakan kejadian luar biasa dan tidak disengaja, biasanya digunakan untuk menggambarkan insiden serupa di masa lalu.

Namun, ia menilai retorika yang digunakan saat ini cenderung menormalisasi serangan.

"Bagi pemerintahan ini, retorika ekstrem Trump hampir berusaha menormalisasi serangan-serangan tersebut. Upaya terang-terangan Trump untuk menyiratkan bahwa orang lain bertanggung jawab atas serangan terhadap sekolah perempuan beberapa minggu lalu juga menunjukkan betapa sedikit usaha yang ia lakukan untuk membangun narasi yang membenarkan perang ini," tegasnya. (I-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya