Arab Saudi Pulihkan Jalur Pipa Minyak Utama Pascaserangan

Wisnu Arto Subari
13/4/2026 06:47
Arab Saudi Pulihkan Jalur Pipa Minyak Utama Pascaserangan
Pipa gas Saudi.(Al Jazeera)

ARAB Saudi memulihkan kapasitas penuh jalur pipa minyak Timur-Barat setelah serangan yang mengurangi produksi. Ini menurut para pejabat.

Setelah pekerjaan perbaikan, jalur pipa utama tersebut kembali mampu memompa sekitar tujuh juta barel minyak per hari. Demikian diumumkan Kementerian Energi kerajaan pada Minggu (12/4).

"Pemulihan cepat ini mencerminkan ketahanan operasional yang tinggi dan efisiensi manajemen krisis Saudi Aramco dan ekosistem energi Kerajaan secara keseluruhan, sehingga meningkatkan keandalan dan kontinuitas pasokan ke pasar lokal dan global, serta mendukung ekonomi global," kata kementerian dalam satu pernyataan pada Minggu, merujuk pada perusahaan minyak dan gas milik negara.

Kementerian mengatakan produksi di ladang minyak Manifa, yang terletak di lepas pantai timur Saudi, juga telah dipulihkan ke kapasitas penuh sekitar 300.000 barel per hari setelah mengalami kerusakan akibat serangan.

Pihak berwenang masih berupaya memulihkan produksi di ladang minyak Khurais di pedalaman setelah kehilangan kapasitas 300.000 barel per hari.

Pengumuman itu disampaikan setelah kantor berita milik negara Saudi Press Agency melaporkan pekan lalu bahwa serangan terhadap stasiun pompa untuk pipa minyak Timur-Barat mengurangi produksi harian sebesar 700.000 barel per hari.

Kantor berita tersebut, yang mengutip sumber di Kementerian Energi, juga melaporkan bahwa serangan terhadap ladang minyak Manifa dan Khurais mengurangi kapasitas harian secara gabungan sebesar 600.000 barel.

Laporan tersebut tidak menyebutkan pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Pipa minyak Timur-Barat, yang menghubungkan ladang minyak Abqaiq di timur negara itu dengan kota Yanbu di tepi Laut Merah, muncul sebagai jalur penting untuk pasokan minyak global di tengah penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran.

Blokade selat tersebut melumpuhkan transportasi sekitar seperlima pasokan minyak global, yang menyebabkan lonjakan harga energi di seluruh dunia.

Meskipun ada gencatan senjata yang rapuh antara Amerika Serikat dan Iran sejak Selasa, pengiriman di selat tersebut tetap hampir terhenti.

Menurut S&P Global, hanya 22 kapal dengan sistem identifikasi otomatis yang diaktifkan yang keluar dari selat antara Rabu, ketika gencatan senjata dimulai, dan Jumat, dibandingkan dengan sekitar 135 transit harian sebelum perang. (Al Jazeera/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya