Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DUNIA militer di tahun 2026 sedang menyaksikan laboratorium perang nyata di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Iran di satu sisi serta Amerika Serikat (AS) dan Israel di sisi lain menjadi contoh paling sempurna untuk memahami perbedaan antara perang simetris dan perang asimetris. Di atas kertas, AS dan Israel memiliki segalanya. Namun di medan perang 2026, kemegahan teknologi simetris mereka dipaksa berlutut oleh labirin strategi asimetris Iran.
Perang simetris terjadi ketika dua kekuatan militer memiliki kapabilitas, teknologi, dan metode tempur yang setara atau serupa. Dalam konteks ini, AS dan Israel mewakili puncak kekuatan simetris dunia.
Baca juga : Bagaimana Sanksi AS Memperkuat Rudal Iran Ada Doktrin Jihad Swasembada
Perang asimetris adalah kondisi pihak yang lebih lemah secara konvensional menggunakan metode nontradisional untuk melawan pihak yang jauh lebih kuat. Iran adalah maestro dalam doktrin ini.
Baca juga : Bedah Teknologi 33 Rudal Iran Dari Era Shahab hingga Generasi Hipersonik
| Aspek | Simetris (AS-Israel) | Asimetris (Iran) |
|---|---|---|
| Kekuatan Utama | Teknologi Udara dan Satelit | Rudal Balistik dan Pasukan Proksi |
| Struktur Komando | Terpusat dan Hierarkis | Terdesentralisasi (Sel Mandiri) |
| Metode Serangan | Bombardir Presisi | Saturasi Drone dan Sabotase Siber |
Baca juga: Daftar Drone dan Rudal Iran Terbaru 2026 Spesifikasi, Kelebihan, dan Kekurangan
Meskipun pemimpin tertinggi Iran dan infrastruktur utamanya digempur, strategi asimetris membuat militer mereka tetap berfungsi secara mandiri di tingkat regional. Iran tidak mencoba menandingi jumlah jet tempur AS, melainkan menciptakan biaya masuk yang terlalu mahal bagi AS-Israel melalui ancaman penutupan Selat Hormuz dan serangan rudal ke pangkalan-pangkalan militer di seluruh Teluk.
Kesimpulannya, dalam perang simetris, pemenang ditentukan oleh siapa yang memiliki pedang lebih tajam. Namun dalam perang asimetris, pemenang adalah siapa yang mampu bertahan paling lama dalam labirin yang penuh jebakan. (I-2)
Militer AS melalui USS Rafael Peralta mencegat kapal tanker M/T Stream menuju Iran. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat di tengah kebuntuan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump memilih strategi blokade ekonomi berkepanjangan terhadap Iran untuk menekan ekspor minyak dan menghindari risiko perang terbuka.
Arab Saudi mendesak Dewan Keamanan PBB secara eksplisit mengecam serangan Iran sejak awal krisis, sembari menyoroti pentingnya keamanan Selat Hormuz bagi ekonomi global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berpotensi memicu krisis pangan global.
Pertemuan mungkin masih berlangsung, serta menegaskan proposal tersebut sedang dibahas. Meski demikian, Leavitt menolak berspekulasi lebih jauh.
HARGA minyak dunia terus menunjukkan tren kenaikan meskipun Iran mengajukan proposal untuk mengakhiri blokade di Selat Hormuz.
Dua teknisi pesawat F-15 Israel didakwa atas spionase untuk Iran. Mereka diduga membocorkan dokumen mesin pesawat dan memantau pejabat tinggi.
Tuan Guru Bajang (TGB) menegaskan dukungan untuk Iran melawan Zionis didasari nilai kemanusiaan, hukum internasional, dan tuntunan agama Al-Quran.
Konflik bersenjata di Iran akibatkan kerusakan masif pada 56 situs warisan budaya, 30 universitas, dan 55 perpustakaan. Simak dampak terhadap identitas nasional.
Profesor Mohammad Marandi mengungkap penyebab kegagalan negosiasi Iran-AS di Islamabad, dampak blokade Selat Hormuz, dan ancaman krisis energi global.
Presiden Donald Trump mengeklaim perang AS di Iran bertujuan mencegah serangan nuklir terhadap Israel dan AS. Simak detail serangan pembom B-2 ke situs pengayaan uranium.
Arab Saudi berhasil memulihkan kapasitas penuh jalur pipa minyak Timur-Barat sebesar 7 juta barel per hari setelah serangan yang sempat mengganggu produksi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved