Ancaman Mikroplastik pada Anak, Risiko Kesehatan Ginjal, Liver, hingga Sistem Saraf Pusat

Intan Safitri
06/4/2026 17:14
Ancaman Mikroplastik pada Anak, Risiko Kesehatan Ginjal, Liver, hingga Sistem Saraf Pusat
Ilustrasi mikroplastik.(Dok. Freepik)

TEMUAN keberadaan mikroplastik dalam tubuh manusia kini mencapai tahap yang mengkhawatirkan, bahkan sejak individu tersebut belum dilahirkan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyoroti bukti yang menunjukkan bahwa polutan mikroplastik telah terdeteksi hingga ke mekonium atau feses pertama bayi baru lahir.

Mikroplastik adalah partikel plastik yang berukuran kurang dari 5 milimeter. Karena ukurannya yang sangat kecil, partikel ini dapat menembus hambatan biologis dalam tubuh manusia.

Fenomena ini mengindikasikan adanya transfer material plastik berukuran mikro dari ibu ke janin melalui plasenta, sebuah fakta medis yang menuntut kewaspadaan tinggi dari para orang tua dan praktisi kesehatan.

Jalur Paparan dan Risiko Organ Dalam

Ketua Pengurus Pusat IDAI sekaligus dokter spesialis anak konsultan jantung, DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), menjelaskan bahwa mikroplastik merupakan polutan yang tidak dapat didegradasi secara alami sehingga akan terus menetap di dalam tubuh (bioakumulatif). Paparan ini masuk melalui berbagai jalur, mulai dari rantai makanan, air minum, hingga udara yang dihirup sehari-hari.

"Bahkan pada mekonium bayi yang baru lahir pun sudah ditemukan mikroplastik. Artinya, kadar mikroplastik yang cukup tinggi dalam darah ibu bisa tersalurkan melalui plasenta, masuk ke tubuh janin, dan akhirnya menjadi mekonium pada bayi tersebut," ujar Dr. Piprim.

Meskipun dampak jangka panjangnya masih dalam tahap penelitian lebih lanjut, IDAI mengkhawatirkan efek toksisitasnya terhadap berbagai organ vital anak. Secara medis, penyerapan mikroplastik pada setiap individu dapat menunjukkan manifestasi klinis yang berbeda, tergantung pada organ yang terpapar, seperti:

  • Sistem saraf pusat
  • Hati (Liver)
  • Ginjal

Keamanan Alat Permainan dan Stabilitas Suhu

Selain faktor konsumsi, Alat Permainan Edukatif (APE) menjadi salah satu sumber paparan yang signifikan bagi anak-anak, terutama balita yang sering memasukkan benda ke dalam mulut (fase oral). IDAI menekankan pentingnya orang tua untuk lebih jeli membaca konten material pada mainan anak dan memastikan standar keamanannya terjamin secara tertulis oleh produsen.

Kekhawatiran utama muncul pada penggunaan plastik yang tidak stabil terhadap perubahan suhu tinggi. "Ini membuat kita bisa aware bahan-bahan yang kita gunakan untuk makan, untuk minum, terutama kalau dia nanti dipanaskan. Ini kan tentu sangat berbahaya buat kesehatan kita," tambah Dr. Piprim.

Sebagai langkah preventif, IDAI menyarankan para produsen dan orang tua untuk mempertimbangkan kembali penggunaan bahan alami yang lebih aman dan ramah lingkungan, seperti:

  • Kayu
  • Bambu
  • Tanah liat

Urgensi Penelitian Data Primer Nasional

Hingga saat ini, IDAI menyatakan bahwa data mengenai persentase bayi yang terpapar mikroplastik di Indonesia masih bersifat sekunder atau merujuk pada studi global. Oleh karena itu, diperlukan penelitian primer berskala nasional untuk memetakan konsentrasi mikroplastik pada mekonium dan organ anak-anak di Indonesia secara akurat.

IDAI saat ini terus melakukan pengkajian bukti-bukti sains untuk menyusun rekomendasi medis yang lebih spesifik bagi masyarakat. Koordinasi lintas sektoral, termasuk dengan ahli intoksikasi dan toksikologi, diperlukan untuk memvalidasi efek paparan ini terhadap kesehatan generasi mendatang.

"Kita memang butuh penelitian primer yang dilakukan di dalam negeri seperti apa, concern terhadap masalah mikroplastik ini, bahkan terhadap mekonium dan lain-lain. Jadi kita tidak asal bicara," tegas Dr. Piprim.

Langkah Preventif Tindakan Nyata
Peralatan Makan Hindari memanaskan wadah plastik di microwave.
Pemilihan Mainan Pilih mainan berlabel bebas BPA dan berbahan alami.
Konsumsi Air Gunakan botol minum berbahan kaca atau stainless steel.

(Ant/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya