Marcella Zalianty dan IDAI Dorong Skrining Jantung Anak Difabel dan Waspada Mikroplastik

Basuki Eka Purnama
07/4/2026 20:20
Marcella Zalianty dan IDAI Dorong Skrining Jantung Anak Difabel dan Waspada Mikroplastik
Marcella Zalianty dan pengurus Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) berfoto bersama anak-anak berkebutuhan khusus setelah kegiatan skrining jantung di Balai Budaya, Jakarta, Senin (6/4/2026).(ANTARA/Farika Nur Khotimah)

DUTA Rumah Autis, Marcella Zalianty, menekankan pentingnya perluasan akses layanan kesehatan bagi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Ia mendorong agar program skrining jantung bagi anak difabel dapat menjangkau wilayah yang lebih luas, mengingat keterbatasan mereka dalam mengomunikasikan kondisi kesehatan fisik secara mandiri.

"Anak-anak autis ini sangat rentan karena mereka tidak bisa mengutarakan ketika mereka sakit. Kita tidak tahu apakah ada gangguan jantung karena mereka tidak bisa menyampaikan keluhan," ujar Marcella saat menghadiri kegiatan skrining jantung yang digelar Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) di Jakarta, Senin (6/4).

Menurut Marcella, deteksi dini melalui skrining jantung sangat krusial bagi ABK. Namun, biaya pemeriksaan yang tinggi seringkali menjadi hambatan bagi banyak keluarga. Kehadiran layanan gratis dari IDAI dinilai sangat membantu meringankan beban ekonomi sekaligus memberikan kepastian medis bagi anak-anak tersebut.

Ia berharap inisiatif ini tidak berhenti di ibu kota saja. "Tidak hanya di Jakarta, anak-anak di daerah juga harus bisa mendapatkan pemeriksaan ini," tegasnya.

Urgensi Skrining Jantung dan Tantangan Biaya

Senada dengan Marcella, Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, menjelaskan bahwa kelompok anak dengan disabilitas tertentu memiliki risiko kesehatan jantung yang lebih tinggi. Sebagai contoh, sekitar 50 persen anak dengan down syndrome memiliki kelainan jantung bawaan.

IDAI saat ini tengah mengupayakan peningkatan akses melalui layanan echocardiography gratis. Langkah ini diambil untuk memotong hambatan biaya dan birokrasi yang sering ditemui masyarakat.

Aspek Layanan Kondisi Saat Ini
Estimasi Biaya Mandiri Di atas Rp1.000.000
Layanan BPJS Tersedia, namun antrean cenderung panjang
Risiko Down Syndrome ~50% memiliki kelainan jantung bawaan

Ancaman Mikroplastik Sejak Dalam Kandungan

Selain fokus pada layanan jantung, IDAI juga memberikan peringatan keras kepada orangtua mengenai bahaya paparan mikroplastik pada anak. Temuan terbaru menunjukkan bahwa mikroplastik telah ditemukan pada mekonium atau tinja pertama bayi baru lahir.

Piprim menjelaskan bahwa paparan ini bisa terjadi bahkan sebelum bayi lahir. "Di darah ibu yang cukup tinggi mikroplastiknya, itu bisa disalurkan melalui plasenta, kemudian sampai ke bayi," ungkapnya. Hal ini menjadi perhatian serius karena mikroplastik bersifat persisten dan tidak dapat didegradasi oleh tubuh.

Sebagai langkah pencegahan, IDAI memberikan beberapa rekomendasi praktis bagi orang tua:

  • Waspadai Wadah Plastik: Hindari penggunaan wadah plastik untuk memanaskan makanan atau minuman, karena suhu tinggi mempercepat pelepasan mikroplastik.
  • Edukasi Berkelanjutan: Orangtua diharapkan terus memperbarui pengetahuan mengenai keamanan bahan pangan dan alat makan.
  • Pengurangan Penggunaan Plastik: Meminimalkan kontak langsung bahan konsumsi dengan material plastik dalam kehidupan sehari-hari.

Saat ini, IDAI masih terus melakukan kajian mendalam untuk menyusun rekomendasi resmi terkait penanggulangan dampak mikroplastik pada kesehatan anak di Indonesia. Meskipun data primer di dalam negeri masih terbatas, kesadaran dini (awareness) dari orang tua dianggap sebagai kunci utama perlindungan kesehatan anak saat ini. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya