Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEBIJAKAN Belajar dari Rumah pada masa pandemi covid-19 membuat intensitas anak dalam mengakses gawai dan internet mengalami peningkatan. Anak-anak akan lebih sering mengakses gawai dan internet baik untuk keperluan belajar maupun bermain.
Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KEMEN PPPA) Lenny N Rosalin menegaskan kondisi ini mengharuskan orangtua dan anak berkerja sama agar dapat bertanggung jawab memilah informasi yang layak bagi anak.
Menurutnya, 30,1% penduduk Indonesia atau sebanyak 79,5 juta merupakan anak yang termasuk dalam generasi digital native atau generasi yang lahir ketika teknologi sudah mulai berkembang. Untuk mempermudah kehidupan sehari-hari, mereka menggunakan gawai dan akses internet.
Baca juga: Perempuan Dinilai Berperan Penting dalam Ketahanan Keluarga
"Internet sama seperti tempat bermain. Ketika anak-anak menggunakannya, orangtua harus mendampingi dan mengawasi karena internet juga menyimpan bahaya. Kini tugas orangtua bertambah. Mereka harus menyediakan akses internet bagi anak belajar tapi juga memastikan mereka aman," kata Lenny seperti dikutip dari keterangan resmi, Rabu (8/7)
"Selain itu, orangtua juga harus berupaya sekuat mungkin menjadi ‘badan sensor’ terhadap tayangan, bacaan, maupun gawai yang digunakan anak-anak di rumah. Selain itu, untuk anak-anak, jadilah pelopor dan pelapor sebagai netizen unggul berkarakter dengan mulai berdiskusi dan bekerja sama dengan orangtua dalam mengakses informasi di internet dan media sosial,” imbuhnya.
Lenny menambahkan pesatnya perkembangan informasi dan teknologi mengakibatkan informasi dapat diakses dengan mudah, murah, dan cepat.
Namun, katanya, bagaikan pisau bermata dua, pesatnya perkembangan informasi dan teknologi juga menimbulkan berbagai dampak negatif. Di antaranya maraknya berita hoaks, akses pornografi semakin mudah, perundungan media daring atau cyberbullying, kejahatan siber dan kejahatan seksual via daring, paparan iklan yang tidak layak anak, dan kecanduan gawai.
"Untuk menghindari dampak negatif tersebut, orangtua bertanggung jawab membangun ketahanan diri pada anak agar mereka mampu memilah informasi yang layak bagi anak,” jelas Lenny.
Berdasarkan hasil survei Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama dengan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2018, jumlah pengguna internet di Indonesia sebesar 64,8% atau mencapai 171,17 juta yang sudah terhubung ke internet dimana tingkat penggunaan internet paling kuat ada pada anak usia 15-19 tahun yakni sebanyak 91%.
Ketua Dewan Pers 2016-2019 Yosep Adi Prasetyo mengatakan orangtua dan anak harus bekerja sama menemukan kesejukan di tengah tsunami informasi di Indonesia saat ini.
“Kita tahu Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna internet dan media sosial tertinggi. Untuk itu, agar tidak terbawa dengan arus informasi yang salah perlu dibangun kesadaran diri untuk memilah informasi mana yang mau diambil dan diakses. Untuk menciptakan informasi yang layak anak disinilah peran orangtua untuk mengawasi dan mendampingi anak dalam mengakses informasi di internet," jelasnya.
"Hal tersebut dapat dilakukan dengan mulai menjaga privasi di media sosial, menjaga keamanan akun dengan membuat kata kunci yang sulit ditebak, memilah dan menghindari berita hoaks, sebarkan informasi yang positif, dan gunakan gawai dan media sosial seperlunya hanya untuk hal yang bermanfaat dan mengembangkan diri jangan sampai kecanduan,” imbuh Yosep.
Sementara itu, Anggota OASE Kabinet Indonesia Maju, Gista P Wishnutama, menuturkan tips dan trik agar aman menggunakan sosial media khususnya bagi anak agar mendapatkan informasi yang layak anak.
Menurutnya, kejahatan di internet seperti cyberbullying bisa terjadi kepada siapa saja tidak mengenal umur, profesi, dan waktu. Oleh karena itu, bagi pengguna media sosial usia anak dalam penggunaannya harus dipantau oleh orangtua.
Adapun tips agar terhindar dari dampak negatif media sosial yakni dengan memahami platform/jenis aplikasi yang akan diakses, berpikir sebelum mengunggah sesuatu di media sosial, batasi penggunaan media sosial jangan sampai kecanduan dan lupa waktu, penggunaan dipantau secara berkala, dan mulai dari diri sendiri untuk bijak dalam mengakses media sosial.
"Di sinilah peran penting orangtua harus bisa menjadi teman yang membantu anak menjadi penjelajah dunia maya yang cerdas dan percaya diri dalam memanfaatkan internet sebaik-baiknya,” kata Gista.
Ketua Umum Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi dan Konten Kreator, Yosi Mokalu menjelaskan bagaimana mengatur informasi layak anak.
Menurutnya, sebaiknya orangtua melakukan pendekatan dengan lingkungan atau ‘dunia’ media sosial anak.
Selain itu, katanya, perlu sekali dibangun rasa tanggung jawab akan informasi layak anak yang harus muncul pertama kali dari rumah, dari keluarga.
Rasa tanggung jawab itu harus dibangun bersama orangtua dan anak agar dapat memunculkan reaksi yang tepat saat anak mengalami hambatan atau kejahatan di media sosial.
"Inilah yang menjadi kunci utama agar anak dapat mengakses informasi layak anak dengan tetap di bawah pengawasan dan pendampingan orangtua. Menanamkan rasa tanggung jawab dan kepedulian pada anak dalam mengakses internet dan media sosial akan menjadikan anak lebih peka terhadap segala bentuk kejahatan di media sosial, sehingga mereka akan terhindar dari hal tersebut,” jelas Yosi. (OL-1)
Studi terbaru Pew Research Center mengungkap alasan di balik penggunaan media sosial oleh remaja. Dari hiburan di TikTok hingga koneksi di Snapchat, simak dampaknya.
Pemerintah Norwegia akan ajukan RUU larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun demi lindungi kesehatan mental dan membatasi pengaruh algoritma pada anak.
Informasi tidak lagi hanya diproduksi oleh jurnalis, tetapi juga oleh influencer yang mengemas isu publik menjadi konten singkat, cepat, dan menarik perhatian.
Penulis Nadhifa Allya Tsana (Rintik Sedu) menilai media sosial kini menjadi platform efektif untuk mendekatkan budaya literasi kepada generasi muda.
KPAI mengapresiasi langkah Meta yang telah menunjukkan kepatuhan terhadap Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggara Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas).
Presiden Prabowo Subianto menceritakan pengalamannya menjadi korban deepfake AI yang membuatnya mahir pidato bahasa arab hingga bernyanyi merdu. Simak peringatannya soal bahaya hoaks!
Smile Train Indonesia rayakan 100.000 operasi sumbing gratis. Bersama Miss Cosmo 2025 dan RS Hermina Galaxy, perkuat layanan komprehensif bagi anak Indonesia.
Kenali perbedaan campak dan flu Singapura pada anak. Mulai dari pola ruam, penyebab virus, hingga risiko komplikasi serius yang perlu diwaspadai orangtua.
Psikolog Devi Yanti mengingatkan orang tua untuk peka terhadap perubahan perilaku anak di daycare. Simak tanda bahaya dan langkah hukum yang perlu diambil.
Psikolog HIMPSI Devi Yanti membagikan tips bagi orang tua agar anak mau bercerita tentang kegiatannya di daycare melalui pertanyaan terbuka dan media bermain.
Sindrom Turner adalah kelainan kromosom pada janin perempuan. Kenali gejala, risiko komplikasi, hingga langkah penanganan medis untuk optimalkan tumbuh kembang.
Dokter spesialis kulit dr. July Iriani Rahardja meluruskan hoaks larangan mandi bagi anak yang terkena campak atau cacar. Simak tips memandikannya di sini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved