Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DEMAM tinggi pada anak sering kali membuat orangtua merasa cemas. Kondisi ini bisa menjadi pertanda awal dari berbagai penyakit, termasuk campak dan Flu Singapura (Hand, Foot, and Mouth Disease/HFMD). Meski sekilas tampak serupa karena sama-sama memicu demam dan ruam, kedua penyakit ini memiliki karakteristik, penyebab, dan tingkat risiko yang sangat berbeda.
Memahami perbedaan antara keduanya sangat krusial agar anak mendapatkan penanganan medis yang tepat dan mencegah terjadinya komplikasi yang membahayakan nyawa.
Flu Singapura adalah infeksi virus yang umumnya bersifat ringan dan ditandai dengan luka di mulut serta ruam di ekstremitas (tangan dan kaki). Penyakit ini biasanya dipicu oleh infeksi Coxsackievirus. Sebaliknya, campak merupakan infeksi saluran pernapasan yang jauh lebih serius dan menular, yang disebabkan oleh virus Rubeola.
Untuk memudahkan orang tua dalam membedakan kedua penyakit ini, berikut adalah tabel perbandingan berdasarkan data medis yang dihimpun:
| Fitur Perbandingan | Flu Singapura (HFMD) | Campak (Measles) |
|---|---|---|
| Penyebab | Coxsackievirus | Virus Rubeola |
| Lokasi Ruam Utama | Mulut (sariawan), telapak tangan, dan telapak kaki. | Wajah dan leher, lalu menyebar ke seluruh tubuh. |
| Gejala Penyerta | Nyeri mulut, sulit makan/minum. | Batuk, pilek, mata merah (konjungtivitis). |
| Masa Pemulihan | 7 hingga 10 hari. | Lebih lama, butuh pengawasan ketat. |
| Bekas Ruam | Hilang tanpa bekas permanen. | Bisa meninggalkan bekas kehitaman atau kulit mengelupas. |
Perbedaan paling signifikan terletak pada bentuk dan distribusi ruam. Pada penderita Flu Singapura, ruam muncul berupa bintik merah atau luka lepuh menyerupai sariawan di area mulut. Hal inilah yang sering membuat anak menolak makan karena rasa nyeri yang hebat saat menelan.
Sementara itu, ruam campak memiliki pola penyebaran yang sistematis. Biasanya dimulai dari garis rambut, wajah, dan leher, kemudian turun menyelimuti punggung hingga kaki. Ruam campak cenderung terasa gatal dan bintik-bintiknya tampak menyatu satu sama lain.
Secara umum, Flu Singapura dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu satu hingga sepuluh hari tanpa meninggalkan bekas luka. Namun, campak memerlukan perhatian medis yang jauh lebih intensif. Jika tidak ditangani dengan benar, campak dapat memicu komplikasi fatal seperti:
Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Langkah utama untuk melindungi anak dari bahaya campak adalah dengan melengkapi imunisasi dasar, khususnya vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella).
Selain vaksinasi, menjaga kebersihan diri menjadi kunci utama dalam memutus rantai penularan kedua penyakit ini. Orang tua diimbau untuk membiasakan anak mencuci tangan dengan sabun, menghindari kontak langsung dengan orang yang sedang sakit, serta memastikan asupan gizi anak tercukupi guna menjaga daya tahan tubuh tetap optimal. (halodoc/Z-1)
Ciri khas flu Singapura berupa munculnya ruam pada tangan, kaki, dan mulut membuat penyakit ini dikenal dengan sebutan hand, foot, and mouth disease (HFMD).
Flu Singapura atau hand, foot, and mouth disease (HFMD) kini semakin sering menyerang anak-anak. Penyakit akibat infeksi virus ini ditandai dengan luka di mulut serta ruam di tangan dan kaki.
Flu Singapura atau Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) tak hanya menyerang anak-anak. Namun, orang dewasa juga bisa terinfeksi dan mengalami komplikasi berat.
PENYAKIT tangan, kaki, dan mulut atau flu Singapura selama ini diketahui sering menyerang anak-anak di bawah umur 10 tahun. Namun, ternyata penyakit ini juga dapat menyerang orang dewasa.
Penyakit ini dapat sembuh sendiri dalam 7-10 hari, namun penanganan yang tepat diperlukan agar gejala bisa sembuh dengan cepat sekaligus menghindari komplikasi.
Kenali tanda kanker ginjal pada anak sejak dini. Waspadai perut membesar, demam, dan kencing berdarah. Peluang sembuh capai 90% dengan deteksi tepat.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Berbeda dengan demam biasa, kondisi pasien Kawasaki tidak kunjung membaik meski sudah mengonsumsi antibiotik.
Obat pereda demam hanya diperlukan pada kondisi tertentu, terutama jika kondisi fisik anak mulai terganggu secara kenyamanan.
Kondisi ini sebenarnya bukan tanda bahwa penyakitnya menyerang otot, melainkan respons alami sistem imun Anda.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved