Ini Alasan Sebenarnya di Balik Kecanduan Media Sosial pada Remaja

Thalatie K Yani
29/4/2026 12:00
Ini Alasan Sebenarnya di Balik Kecanduan Media Sosial pada Remaja
Ilustrasi(freepik)

MEDIA sosial mungkin menjadi konsep yang rumit bagi orangtua, namun bagi remaja, tujuannya sangat sederhana, koneksi dan hiburan. Studi terbaru dari Pew Research Center mencoba membedah lebih dalam mengapa generasi muda begitu terikat pada platform digital, serta bagaimana hal tersebut memengaruhi kehidupan mereka sehari-hari.

Riset yang melibatkan 1.458 remaja berusia 13 hingga 17 tahun ini menemukan TikTok, Instagram, dan Snapchat menjadi pilihan utama untuk mencari kesenangan. Selain hiburan, para remaja menggunakan platform ini untuk memantau kabar keluarga, teman, hingga mencari komunitas dengan minat yang sama.

Karakteristik Tiap Platform

Setiap platform memiliki fungsi berbeda di mata remaja. TikTok menjadi "kiblat" utama untuk konten hiburan. Sebanyak 6 dari 10 remaja mengaku menonton ulasan produk di sana, serta mencari berita terkait selebritas favorit mereka di TikTok dan Instagram.

Di sisi lain, Snapchat dipandang sebagai ruang utama untuk terhubung secara pribadi dengan teman dan keluarga. Para remaja melihat Snapchat sebagai tempat untuk memperkuat dan menjaga jalinan pertemanan mereka.

Gangguan Tidur dan Produktivitas

Namun, ada sisi gelap yang perlu diwaspadai orangtua. Para remaja mengakui TikTok adalah platform yang paling sering menyita waktu mereka secara berlebihan. Sebanyak 4 dari 10 remaja menyatakan durasi bermain TikTok telah mengganggu waktu tidur mereka, sementara 29% lainnya mengaku produktivitas mereka menurun.

Snapchat pun tidak lepas dari masalah. Meski dianggap positif untuk pertemanan, 3 dari 10 responden mengaku pernah mengalami pengalaman buruk, seperti dipanggil dengan sebutan ofensif, menjadi target rumor, hingga mendapatkan ancaman fisik.

Bias Kesadaran Remaja dan Peran Orangtua

Hal yang paling menarik dari temuan ini adalah ketidaksadaran remaja terhadap dampak negatif bagi diri mereka sendiri.

"Di ketiga platform tersebut, sebagian besar pengguna remaja mengatakan bahwa hal itu tidak merugikan maupun membantu kesehatan mental mereka," tulis hasil survei tersebut.

Karena para remaja sering kali terlalu berinvestasi secara emosional untuk merasa "diterima" di lingkungan sebaya, mereka cenderung tidak menyadari kerugian yang terjadi pada kesehatan mentalnya. Inilah peran penting orangtua untuk menjadi pengamat yang jeli dan pengelola waktu layar (screen time) yang tegas bagi anak-anak.

Data menunjukkan adanya perbedaan persepsi. Orangtua lebih cenderung melabeli durasi penggunaan gawai anak mereka sebagai "terlalu banyak" dibandingkan remaja itu sendiri.

Jika orang tua melihat perubahan perilaku negatif atau penurunan kualitas tidur, hampir semua platform kini menyediakan fitur kontrol orangtua yang bisa dimanfaatkan. Mengatur batasan yang jelas menjadi kunci ketika remaja belum mampu membatasi diri mereka sendiri dari dunia digital yang tak berujung. (Parents/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya