Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MEDIA sosial mungkin menjadi konsep yang rumit bagi orangtua, namun bagi remaja, tujuannya sangat sederhana, koneksi dan hiburan. Studi terbaru dari Pew Research Center mencoba membedah lebih dalam mengapa generasi muda begitu terikat pada platform digital, serta bagaimana hal tersebut memengaruhi kehidupan mereka sehari-hari.
Riset yang melibatkan 1.458 remaja berusia 13 hingga 17 tahun ini menemukan TikTok, Instagram, dan Snapchat menjadi pilihan utama untuk mencari kesenangan. Selain hiburan, para remaja menggunakan platform ini untuk memantau kabar keluarga, teman, hingga mencari komunitas dengan minat yang sama.
Setiap platform memiliki fungsi berbeda di mata remaja. TikTok menjadi "kiblat" utama untuk konten hiburan. Sebanyak 6 dari 10 remaja mengaku menonton ulasan produk di sana, serta mencari berita terkait selebritas favorit mereka di TikTok dan Instagram.
Di sisi lain, Snapchat dipandang sebagai ruang utama untuk terhubung secara pribadi dengan teman dan keluarga. Para remaja melihat Snapchat sebagai tempat untuk memperkuat dan menjaga jalinan pertemanan mereka.
Namun, ada sisi gelap yang perlu diwaspadai orangtua. Para remaja mengakui TikTok adalah platform yang paling sering menyita waktu mereka secara berlebihan. Sebanyak 4 dari 10 remaja menyatakan durasi bermain TikTok telah mengganggu waktu tidur mereka, sementara 29% lainnya mengaku produktivitas mereka menurun.
Snapchat pun tidak lepas dari masalah. Meski dianggap positif untuk pertemanan, 3 dari 10 responden mengaku pernah mengalami pengalaman buruk, seperti dipanggil dengan sebutan ofensif, menjadi target rumor, hingga mendapatkan ancaman fisik.
Hal yang paling menarik dari temuan ini adalah ketidaksadaran remaja terhadap dampak negatif bagi diri mereka sendiri.
"Di ketiga platform tersebut, sebagian besar pengguna remaja mengatakan bahwa hal itu tidak merugikan maupun membantu kesehatan mental mereka," tulis hasil survei tersebut.
Karena para remaja sering kali terlalu berinvestasi secara emosional untuk merasa "diterima" di lingkungan sebaya, mereka cenderung tidak menyadari kerugian yang terjadi pada kesehatan mentalnya. Inilah peran penting orangtua untuk menjadi pengamat yang jeli dan pengelola waktu layar (screen time) yang tegas bagi anak-anak.
Data menunjukkan adanya perbedaan persepsi. Orangtua lebih cenderung melabeli durasi penggunaan gawai anak mereka sebagai "terlalu banyak" dibandingkan remaja itu sendiri.
Jika orang tua melihat perubahan perilaku negatif atau penurunan kualitas tidur, hampir semua platform kini menyediakan fitur kontrol orangtua yang bisa dimanfaatkan. Mengatur batasan yang jelas menjadi kunci ketika remaja belum mampu membatasi diri mereka sendiri dari dunia digital yang tak berujung. (Parents/Z-2)
Roblox resmi membuka Teen Council Asia 2026. Remaja Indonesia usia 14-17 tahun diajak berkontribusi dalam keamanan digital. Simak syarat dan cara daftar.
Gagal ginjal kini banyak menyerang usia muda akibat pola hidup tidak sehat. Kenali gejala, penyebab, dan cara mencegahnya sejak dini agar tidak berujung cuci darah.
Roblox ajak remaja Indonesia usia 14-17 tahun gabung Teen Council Asia. Simak syarat, jadwal pendaftaran, dan misi keamanan digital di sini.
PkM melibatkan guru Bimbingan dan Konseling (BK) SIJB untuk pencegahan dan penanganan segera bagi siswa yang menunjukkan adanya permasalahan.
Guru Besar FKUI Prof. Agus Dwi Susanto menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan untuk mencegah penggunaan vape pada remaja di tengah masifnya promosi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved