Literasi Kesehatan Mental Masih Bayangi Siswa Remaja Migran

Despian Nurhidayat
15/4/2026 11:53
Literasi Kesehatan Mental Masih Bayangi Siswa Remaja Migran
Ilustrasi(Dok Istimewa)

MASA remaja adalah periode krusial yang penuh tantangan biologis, psikologis, dan sosial. Namun, bagi remaja migran di Malaysia, tantangan ini berlipat ganda akibat stigma, ketiadaan identitas hukum, hingga risiko diskriminasi.

Menanggapi kondisi tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Internasional dari Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti (FK Usakti) meluncurkan program PkM bertema RISE (Remaja Inspiratif Sehat Jiwa Raga dan Emosional Tangguh) di Sekolah Indonesia Johor Bahru (SIJB), Malaysia.

Program RISE merupakan solusi mengatasi rendahnya literasi kesehatan mental dan belum adanya sistem screening emosional bagi siswa remaja migran.

Melalui program ini, FK Usakti berupaya memberi keterampilan praktis seperti stress management, pengendalian emosi, dan problem solving agar siswa memiliki resilience yang tinggi.

Program yang berkolaborasi dengan SIJB dan KJRI Johor Bahru dan didukung Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Usakti ini dilakukan untuk memperkuat jejaring internasional serta berdampak nyata bagi masyarakat Indonesia yang berada di negara lain.

Adapun tim PkM terdiri dari empat dosen dengan keahlian yang saling melengkapi yaitu, Rina Kurniasri Kusumaratna, Erita Istriana, Gita Handayani Tarigan, dan Evi Susanti Sinaga.

Program ini juga merupakan implementasi Indikator Kinerja Utama (IKU) universitas dengan melibatkan mahasiswa, DA Achmad Bachir Nugraha Wirabrata dan Trisha Eungelica Ardyadana, serta alumni Himawan Jodie.
Rina Kurniasri Kusumaratna mengatakan program RISE menargetkan 100% siswa kelas 7-9 di SIJB melakukan screening kesehatan mental emosional.

"Sebanyak 76 siswa remaja mengikuti skrining bersama orangtua mereka. Hasil dari skrining langsung ditindaklanjuti dengan konseling bersama dengan dokter ahli kesehatan jiwa FK Usakti, khususnya bagi siswa yang hasil skriningnya menunjukkan ada permasalahan," jelas dia.

Ia melanjutkan konseling tak hanya dilakukan pada siswa, tetapi juga orangtua siswa. Untuk memastikan keberlanjutan program, tim PkM melibatkan guru Bimbingan dan Konseling (BK) SIJB untuk pencegahan dan penanganan segera bagi siswa yang menunjukkan adanya permasalahan.

Ia memaparkan program RISE juga selaras dengan upaya pencapaian beberapa tujuan dalam United Nations Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being), SDG 4 Pendidikan Berkualitas (Quality Education), dan SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan (Reduced Inequalities).

"Kami harap melalui kolaborasi antara Usakti dan pihak SIJB di bawah naungan KJRI Johor Bahru, program ini mampu memutus rantai masalah mental emosional pada remaja migran. Siswa SIJB juga tak hanya tumbuh sehat secara fisik, tapi juga memiliki mental tangguh untuk menginspirasi lingkungan sekitarnya," tutup Rina.

Pada kesempatan tersebut, Guru BK SIJB Dede Amalia menambahkan PKM internasional ini amat membantu tugasnya untuk mengetahui permasalahan yang dialami siswa.

"Materi yang diberikan baik melalui buku saku maupun penyuluhan juga sangat menarik dan edukatif sehingga membuka wawasan siswa. PKM ini amat bermanfaat bagi orangtua untuk mengetahui permasalahan kesehatan mental emosional siswa remaja dan upaya-upaya pencegahannya," paparnya.(H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya