Ini Tips Agar Anak Terbuka Menceritakan Aktivitas di Daycare

Basuki Eka Purnama
28/4/2026 10:03
Ini Tips Agar Anak Terbuka Menceritakan Aktivitas di Daycare
Ilustrasi(Freepik)

MENITIPKAN anak di tempat penitipan anak atau daycare sering kali menjadi pilihan bagi orangtua bekerja. Namun, tantangan muncul ketika orangtua ingin mengetahui sejauh mana kualitas pengalaman anak selama berada di sana. Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) membagikan sejumlah kiat agar anak lebih terbuka menceritakan aktivitas keseharian mereka.

Bendahara HIMPSI Wilayah Aceh, Devi Yanti, M. Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa kunci utama terletak pada cara orangtua membangun komunikasi. Bagi anak yang sudah bisa berbicara, pendekatan yang spesifik dan tidak memojokkan sangat diperlukan.

Gunakan Pertanyaan Terbuka

Devi menyarankan orangtua untuk menghindari pertanyaan tertutup yang hanya membutuhkan jawaban "ya" atau "tidak". Sebaliknya, gunakan pertanyaan terbuka yang memancing anak untuk mendeskripsikan kejadian.

"Daripada menanyakan apakah hari ini menyenangkan, coba tanyakan tadi main apa, dengan siapa, atau ada kejadian lucu tidak hari ini?" ujar Devi yang juga merupakan Psikolog Klinis di Rumah Sakit Jiwa Aceh tersebut.

Mencari "Momen Emas" untuk Berbicara

Waktu yang tepat sangat menentukan kenyamanan anak dalam bercerita. Orangtua perlu mencari celah waktu ketika suasana hati anak sedang tenang dan merasa aman. Berikut adalah beberapa rekomendasi waktu dan teknik komunikasi yang disarankan:

Aspek Rekomendasi Psikolog
Waktu Ideal Sela-sela makan malam, saat mandi, atau sebelum tidur (momen emas).
Reaksi Orangtua Tetap tenang, jangan menunjukkan ekspresi berlebihan atau panik saat mendengar cerita mengkhawatirkan.
Media Komunikasi Gunakan boneka, gambar, atau permainan peran (roleplay) untuk membantu anak berekspresi.

Devi menekankan pentingnya menjaga reaksi emosional. Jika orangtua bereaksi terlalu panik saat anak menceritakan hal yang kurang menyenangkan, anak berisiko merasa bersalah dan memilih untuk diam di kemudian hari.

Menghapus Stigma Daycare

Lebih lanjut, Devi menegaskan bahwa menitipkan anak ke daycare bukanlah hal yang tabu. Menurutnya, stigma bahwa "ibu yang baik tidak menitipkan anak" adalah konstruksi sosial yang tidak adil bagi orangtua pekerja atau orangtua tunggal.

Secara psikologis, daycare yang berkualitas justru memberikan manfaat bagi tumbuh kembang anak, seperti:

  • Stimulasi sosial yang lebih intens.
  • Interaksi positif dengan teman sebaya.
  • Kegiatan terstruktur yang mendukung perkembangan kognitif dan motorik.

"Yang terpenting bukan di mana anak diasuh, tetapi bagaimana kualitas pengasuhan yang diterima anak," tegasnya. (Ant/Z-1)

Catatan Penting: Belajar dari kasus kekerasan anak yang sempat terjadi di salah satu daycare di Yogyakarta, HIMPSI mendorong pemerintah dan pemangku kepentingan untuk memperketat pengawasan serta izin operasional seluruh lembaga pengasuhan anak di Indonesia guna menjamin keamanan buah hati.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya