Mengenal Sindrom Turner: Gejala, Diagnosis, dan Penanganan Tepat untuk Tumbuh Kembang Anak

Basuki Eka Purnama
28/4/2026 08:33
Mengenal Sindrom Turner: Gejala, Diagnosis, dan Penanganan Tepat untuk Tumbuh Kembang Anak
Ilustrasi(Freepik)

SETIAP orangtua mendambakan buah hatinya tumbuh sehat dan mencapai potensi terbaiknya. Dalam perjalanan tumbuh kembang anak, memahami kondisi kesehatan sejak dini, bahkan sejak dalam kandungan, menjadi krusial. Salah satu kondisi medis yang memerlukan perhatian khusus pada janin perempuan adalah sindrom Turner.

Kondisi ini terjadi pada sekitar 1 dari 2.000 hingga 2.500 kelahiran. Meskipun merupakan kelainan kromosom, sindrom Turner bukanlah penyakit genetik yang diturunkan, bukan penyakit menular, dan bukan disebabkan oleh kesalahan asupan selama kehamilan. Kondisi ini terjadi secara acak saat pembentukan janin.

Apa Itu Sindrom Turner?

Sindrom Turner adalah kondisi ketika salah satu dari dua kromosom X pada perempuan hilang atau tidak lengkap. Kehilangan kromosom ini berdampak signifikan pada dua hal utama: percepatan penurunan cadangan sel telur di indung telur (ovarium) dan hilangnya gen pengendali pertumbuhan. Akibatnya, penyandang sindrom Turner umumnya berperawakan pendek dan mengalami kegagalan fungsi indung telur.

Mengenali Gejala di Berbagai Fase Kehidupan

Ciri fisik anak dengan sindrom Turner terkadang baru terlihat jelas seiring bertambahnya usia, terutama saat laju pertumbuhan anak melambat dan tidak sesuai dengan grafik usia. Berikut adalah tabel identifikasi gejala berdasarkan masa pertumbuhan:

Masa Kehidupan Gejala/Tanda yang Muncul
Dalam Rahim (Janin) Penumpukan cairan di belakang leher (nuchal translucency), kecurigaan kelainan jantung atau ginjal pada USG.
Bayi Pembengkakan (limfedema) pada tangan dan kaki, lipatan kulit jelas di leher, kelainan jantung bawaan.
Anak-anak Pertumbuhan sangat lambat, tinggi badan di bawah grafik, leher lebar, garis rambut belakang kepala rendah.
Remaja Tidak ada tanda pubertas (seperti pertumbuhan payudara) dan tidak mengalami menstruasi.

Risiko Komplikasi Sistemik

Selain ciri fisik, penyandang sindrom Turner memiliki risiko lebih tinggi terhadap beberapa kondisi medis, antara lain:

  • Gangguan struktur jantung (katup aorta atau koarktasi aorta)
  • Gangguan fungsi ginjal dan kelenjar tiroid (hipotiroidisme)
  • Masalah pendengaran, penglihatan, serta kesehatan gigi dan rahang
  • Risiko osteoporosis di masa depan akibat kekurangan hormon estrogen

Diagnosis dan Penanganan Medis

Diagnosis dilakukan melalui evaluasi komprehensif. Saat kehamilan, dokter dapat melakukan Screening prenatal non-invasif (NIPT) atau prosedur konfirmasi seperti amniosentesis. Setelah lahir, prosedur standar yang dilakukan adalah analisis kromosom (kariotipe) melalui sampel darah.

Penanganan sindrom Turner memerlukan kolaborasi tim dokter multidisiplin. Fokus utama adalah pada pemantauan pertumbuhan fisik dan kesehatan reproduksi.

dr. Ghaisani Fadiana, Sp. A, Subsp. End. (K), Dokter Spesialis Anak Subspesialis Endokrinologi RS Pondok Indah – Pondok Indah, menjelaskan pentingnya intervensi hormon:

“Pemberian hormon pertumbuhan pada anak yang mengidap sindrom Turner adalah intervensi medis terukur sehingga si kecil memiliki kesempatan untuk tumbuh secara optimal, sesuai dengan potensinya melalui pemantauan dosis yang konsisten.”

Memasuki usia remaja, terapi hormon pengganti menjadi sangat penting untuk memicu pubertas alami dan menjaga kesehatan tulang.

Dr. dr. Kanadi Sumapradja, Sp. O.G, Subsp. F.E.R., M.Sc., Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Fertilitas Endokrinologi Reproduksi RS Pondok Indah IVF Centre, menambahkan:

“Terapi hormon pengganti estrogen dan progesterone yang terencana dapat membantu merangsang perkembangan payudara, organ reproduksi, menjaga kepadatan tulang, serta membantu siklus menstruasi. Hal ini diharapkan membantu pasien meningkatkan kualitas hidupnya.”

Edukasi dan Dukungan Komunitas

Sebagai bentuk kepedulian, RS Pondok Indah – Pondok Indah bersama Yayasan Kesehatan Anak Global menyelenggarakan Patient Gathering Turner Syndrome bertema “Mengenali Lebih Dini, Merawat Lebih Baik” pada 26 April 2026. Acara ini menjadi wadah bagi lebih dari 100 peserta dan anggota komunitas Turner’s Society untuk berbagi pengalaman.

Ketua Yayasan Kesehatan Anak Global, Prof. Dr. dr. Aman Pulungan, Sp. A, Subsps. End, FAAP, FRCPI (Hon.), menekankan bahwa dukungan emosional antar sesama orangtua sangat membantu dalam mendampingi tumbuh kembang anak agar tetap percaya diri dan mampu meraih impian mereka.

FAQ Singkat

  • Apakah bisa sembuh? Tidak bisa secara kromosom, namun gejala dan komplikasinya sangat bisa dikelola agar pasien hidup produktif.
  • Kapan terapi dimulai? Hormon pertumbuhan dimulai saat grafik tumbuh melambat; terapi estrogen biasanya dimulai usia 11-12 tahun.
  • Bagaimana kecerdasannya? Umumnya normal, meski terkadang membutuhkan dukungan ekstra pada kemampuan visual-spasial atau matematika.

Dengan deteksi dini dan penanganan medis yang tepat, anak dengan sindrom Turner memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh optimal dan berprestasi. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya