Psikolog Sebut Peran Orangtua Kunci Keberhasilan PP Tunas

Basuki Eka Purnama
21/4/2026 10:49
Psikolog Sebut Peran Orangtua Kunci Keberhasilan PP Tunas
Ilustrasi(Freepik)

IMPLEMENTASI Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, atau yang dikenal sebagai PP Tunas, menempatkan keluarga sebagai garda terdepan. Psikolog anak, remaja, dan keluarga, Sani Budiantini Hermawan, menegaskan bahwa peran orangtua adalah faktor penentu keberhasilan regulasi ini, terutama dalam membatasi akses anak terhadap platform digital berisiko tinggi.

Menurut Sani, tantangan terbesar dalam menjalankan aturan ini justru muncul dari dalam rumah. Banyak anak yang secara psikologis belum siap ketika penggunaan gawai mereka mulai dibatasi secara ketat sesuai amanat PP tersebut.

“Ternyata banyak anak yang tantrum ketika orangtuanya membatasi atau bahkan sudah mulai bernegosiasi untuk membatasi penggunaan platform digital,” ujar Sani dalam sebuah sesi diskusi di Jakarta, Kamis (16/4).

Dampak Penolakan dan Gejala Psikosomatis

Sani mengungkapkan bahwa reaksi penolakan dari anak tidak bisa dianggap remeh. Dalam praktiknya, ia kerap menjumpai anak-anak yang menunjukkan gejala fisik dan psikis yang serius akibat ketergantungan gawai yang sudah akut.

Kategori Reaksi Bentuk Perilaku & Gejala
Emosional Tantrum, perasaan cemas berlebihan, dan penolakan keras (negosiasi agresif).
Fisik (Psikosomatis) Mual, muntah-muntah, dan keluhan fisik lainnya akibat stres pelepasan gawai.
Perilaku Kecanduan berlebihan (sangat menempel pada gawai).

Psikolog lulusan Universitas Indonesia ini menambahkan bahwa kondisi tersebut sering kali membuat orangtua merasa terbebani. Tekanan mental akibat perubahan perilaku anak menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua dalam konsistensi menerapkan aturan.

Kesiapan Mental dan Kreativitas Orangtua

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Sani menekankan pentingnya kesiapan mental orangtua. Pemahaman yang mendalam mengenai tujuan PP Tunas—yakni melindungi anak dari dampak negatif paparan digital, harus menjadi fondasi utama.

Ia menyarankan agar orangtua tidak hanya sekadar melarang, tetapi juga menjadi kreatif dalam menghadirkan aktivitas alternatif. Aktivitas ini bertujuan untuk mengalihkan ketergantungan gawai sekaligus memperkuat ikatan emosional antaranggota keluarga.

Rekomendasi Aktivitas Alternatif Pengganti Gawai:
  • Permainan papan (Board games) seperti Monopoli atau Ular Tangga.
  • Permainan tradisional seperti Kelereng.
  • Olahraga asah otak seperti Catur.
  • Aktivitas interaktif yang membangun komunikasi dua arah.

Sebagai penutup, Sani mengajak seluruh orangtua untuk berperan sebagai agen perubahan. Sosialisasi PP Tunas harus dilakukan secara masif, bahkan dari mulut ke mulut, demi menyelamatkan generasi penerus bangsa dari risiko dunia digital.

"Mari kita kawal, kita jaga, kita sampaikan dari mulut ke mulut untuk mengimplementasi dan mensosialisasi PP ini demi keselamatan generasi penerus bangsa," pungkasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya