Cerita Prabowo Jadi Korban AI: Kaget Bisa Nyanyi Bagus di YouTube dan Fasih Bahasa Arab

Media Indonesia
08/4/2026 18:48
Cerita Prabowo Jadi Korban AI: Kaget Bisa Nyanyi Bagus di YouTube dan Fasih Bahasa Arab
Presiden Prabowo Subianto(tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden.)

DI balik kecanggihan teknologi, Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan pengalamannya menjadi "korban" manipulasi teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Ia menyebut AI kini mampu memanipulasi suara dan penampilan seseorang hingga terlihat sangat nyata, meskipun tidak sesuai kenyataan.

“AI bisa membuat seseorang bicara yang dia tidak bicara. Saya sering loh,” ujar Presiden Prabowo saat memberikan taklimat pada Rapat Kerja Pemerintah bersama Kabinet Merah Putih serta jajaran Eselon I dan Dirut BUMN di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/4).

Kaget Bisa Bernyanyi Bagus di YouTube

Salah satu momen yang membuat Presiden terkejut adalah saat ia menemukan konten di platform video yang menampilkan dirinya sedang bernyanyi dengan suara merdu. Padahal, secara terbuka Prabowo mengaku tidak memiliki kemampuan olah vokal yang mumpuni.

“Saya ini suaranya jelek, saya tidak bisa nyanyi. Tapi ada di YouTube saya bisa nyanyi, suaranya bagus banget. Saya saja kaget,” tuturnya yang disambut tawa para peserta rapat.

Tak hanya bernyanyi, Presiden juga mendapati konten manipulatif (deepfake) yang menggambarkan dirinya berpidato fasih dalam bahasa Mandarin dan bahasa Arab. Menariknya, Prabowo berseloroh bahwa fenomena tersebut sempat ia diamkan karena dianggap menguntungkan di wilayah tertentu saat masa kampanye.

“Ada lagi saya berpidato dengan bahasa Arab, luar biasa. Karena waktu itu kampanye, saya kira kalau di daerah-daerah tapal kuda ini mungkin menguntungkan, jadi saya diam juga. Kalau menguntungkan kita diam,” katanya seraya tertawa.

Waspadai Fitnah Digital dan ‘Echo Chamber’

Namun, di balik candaannya, Presiden memberikan peringatan serius. Ia menilai perkembangan AI dan sistem informatika digital dapat digunakan untuk memproduksi hoaks dan fitnah yang berpotensi merusak kedaulatan sebuah negara.

Menurutnya, perang masa kini tidak lagi melulu soal pengiriman pasukan atau bom, melainkan melalui permainan media sosial yang manipulatif. Prabowo menyoroti penggunaan ribuan akun palsu yang diciptakan untuk menciptakan efek gema atau echo chamber.

“Mungkin dengan permainan sosmed, dengan fitnah, hoaks. Cukup 100 orang, 1.000 orang, bisa bikin heboh. Ini namanya echo chamber. Dalam pembelajaran intelijen, ini ada teknik bagaimana merusak sebuah negara lain,” tegas Presiden. 

(Ant/P-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya