TikTok, Influencer, dan Kaburnya Batas Jurnalisme

Mellany, Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Pancasila
21/4/2026 13:44
TikTok, Influencer, dan Kaburnya Batas Jurnalisme
Mellany, Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Pancasila.(Dok. Pribadi)

BELAKANGAN ini, batas antara jurnalisme dan konten digital semakin kabur, terutama di platform seperti TikTok. Informasi tidak lagi hanya diproduksi oleh jurnalis, tetapi juga oleh influencer yang mengemas isu publik menjadi konten singkat, cepat, dan menarik perhatian.

Fenomena ini terlihat jelas ketika berbagai isu—mulai dari konflik sosial hingga peristiwa viral—lebih dulu menyebar melalui media sosial sebelum diberitakan secara mendalam oleh media arus utama. Algoritma platform mendorong konten yang emosional dan mudah menarik engagement, bukan yang paling akurat. Akibatnya, informasi yang belum terverifikasi dapat dengan cepat membentuk opini publik.

Dalam perspektif ekonomi politik media, kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran kekuasaan. Media tidak lagi menjadi satu-satunya aktor utama dalam produksi dan distribusi informasi. Platform digital dan influencer kini memiliki peran besar dalam menentukan apa yang dianggap penting oleh publik.

Dari sisi ekonomi, perubahan ini juga berdampak signifikan. Influencer dapat memperoleh keuntungan langsung dari popularitas konten, sementara media harus berjuang mempertahankan audiens di tengah persaingan yang semakin ketat. Tekanan ini mendorong media untuk menyesuaikan gaya konten agar lebih cepat, ringan, dan sesuai dengan pola konsumsi digital.

Di Indonesia, tingginya penggunaan media sosial memperkuat tren ini. Publik semakin terbiasa mengonsumsi informasi dari konten viral, yang sering kali lebih mengutamakan daya tarik dibandingkan kedalaman. Hal ini memperbesar risiko penyebaran informasi yang bias dan kurang akurat.

Dalam situasi ini, posisi jurnalisme menghadapi tantangan serius. Media dituntut untuk tetap menjaga kualitas dan verifikasi informasi, sekaligus beradaptasi dengan ekosistem digital yang semakin didominasi oleh logika algoritma dan popularitas. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya