Rintik Sedu: Media Sosial Jadi Jembatan Literasi Generasi Muda

Basuki Eka Purnama
20/4/2026 19:53
Rintik Sedu: Media Sosial Jadi Jembatan Literasi Generasi Muda
Novelis muda Nadhifa Allya Tsana yang lebih dikenal dengan nama pena "Rintik Sedu" saat menggelar wisata buku (tour book) di Makassar, Minggu (19/4/2026).(ANTARA/Muh Hasanuddin)

PENULIS muda Nadhifa Allya Tsana, yang lebih populer dengan nama pena Rintik Sedu, memberikan pandangan optimistis terhadap peran teknologi digital dalam dunia literasi. Menurutnya, kehadiran media sosial saat ini justru menjadi katalisator yang mendekatkan budaya membaca dan menulis kepada generasi muda.

Hal tersebut disampaikan Nadhifa usai menghadiri kegiatan wisata buku (tour book) di Makassar, Minggu (19/4). Ia menilai bahwa perkembangan platform digital telah mendobrak hambatan akses terhadap bacaan dan ruang diskusi yang sebelumnya terasa terbatas.

"Saya melihat literasi ini semakin dekat dengan anak-anak muda, dan media sosial lebih mendekatkan mereka," ujar penulis kelahiran 1998 tersebut.

Transformasi Komunitas Digital

Nadhifa menceritakan pengalamannya saat mulai aktif menulis di platform seperti Instagram. Kala itu, menemukan komunitas atau forum dengan minat bacaan yang serupa merupakan tantangan tersendiri. Namun, situasi tersebut kini telah berubah secara signifikan.

Media sosial kini berfungsi sebagai jembatan yang mempertemukan penulis dan pembaca dalam satu ekosistem. Fenomena ini memicu munculnya kembali gairah literasi, di mana karya sastra klasik maupun modern kembali diperbincangkan secara luas.

Ia mencontohkan bagaimana buku-buku yang pernah ia baca, seperti Luka hingga Ronggeng Dukuh Paruk, kini kembali populer di berbagai platform digital melalui ulasan (review) dan diskusi interaktif para pembaca muda.

Aspek Literasi Dampak Media Sosial
Aksesibilitas Mempermudah akses terhadap bahan bacaan dan informasi buku terbaru.
Interaksi Membuka ruang diskusi langsung antara penulis dan pembaca secara inklusif.
Komunitas Mempertemukan individu dengan minat literasi yang sama tanpa sekat geografis.
Eksistensi Karya Meningkatkan visibilitas karya sastra melalui ulasan dan konten kreatif.

Pentingnya Kolaborasi

Lebih lanjut, Nadhifa menekankan bahwa meskipun teknologi menyediakan sarana, keberlanjutan budaya literasi tetap bergantung pada semangat kolaborasi. Ia mendorong agar para pembaca dan penulis tidak bergerak sendiri-sendiri, melainkan saling berbagi perspektif.

"Sesama pembaca dan penulis itu harus sama-sama dalam kolaborasi dan tidak boleh disimpan," tegasnya.

Melalui tren positif ini, Nadhifa berharap budaya literasi di Indonesia dapat tumbuh semakin kuat dan inklusif, seiring dengan adaptasi generasi muda terhadap kemajuan teknologi digital yang terus berkembang. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya