Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA ilmuwan menangkap tanda-tanda magnetik dari pasang surut laut Bumi dengan detail terbaik yang pernah ada. Sinyal-sinyal lemah ini, yang dapat dideteksi satelit tertentu ketika terbang pada orbit yang sangat rendah, mungkin menyimpan petunjuk tentang distribusi magma di bawah dasar laut, menurut pernyataan dari Badan Antariksa Eropa (ESA).
Saat air laut beriak di atas medan magnet Bumi, ia menghasilkan arus listrik yang lemah yang kemudian menghasilkan sinyal magnetik yang dapat dideteksi dari luar angkasa. Dalam studi baru yang diterbitkan pada 2 Desember 2024 di jurnal Philosophical Transactions of the Royal Society A, para peneliti memecahkan sinyal-sinyal ini menggunakan data dari misi Swarm ESA yang sedang berlangsung, yang terdiri dari tiga satelit yang mengukur medan magnet Bumi.
"Ini adalah salah satu sinyal terkecil yang terdeteksi oleh misi Swarm sejauh ini," kata penulis utama studi ini, Alexander Grayver, seorang ahli geofisika dan dosen senior di University of Cologne, Jerman, dalam pernyataan tersebut.
Medan magnet Bumi dihasilkan lautan besi cair yang bermuatan listrik di inti luar planet ini. Arus panas dan putaran Bumi keduanya menyuplai gerakan besi cair ini. Gerakan inti menciptakan sebuah lapisan besar yang bersifat bipolar yang memanjang hingga ke luar angkasa, melindungi kita dari radiasi kosmik dan partikel bermuatan yang dipancarkan matahari.
Misi Swarm diluncurkan pada 2013 dan telah mengumpulkan informasi tentang medan magnet Bumi sejak saat itu. Namun, sinyal jelas yang dihasilkan oleh pasang surut laut sulit untuk didapatkan, karena sangat lemah dan hampir tidak pernah bisa menembus "keributan" yang meluas di ruang angkasa, menurut pernyataan tersebut.
Pada akhir 2010-an, beberapa faktor bertemu yang memungkinkan Swarm merekam tanda magnetik dari pasang surut laut dengan detail yang belum pernah tercatat sebelumnya. Salah satu faktor tersebut adalah penurunan dramatis aktivitas matahari, dan faktor lainnya adalah kedekatan satelit Swarm dengan Bumi.
"Data ini sangat baik karena dikumpulkan selama periode solar minimum, ketika ada lebih sedikit gangguan akibat cuaca ruang angkasa," kata Grayver.
Matahari mengikuti siklus sekitar 11 tahun yang menentukan tingkat aktivitas di permukaannya. Pada solar maksimum, matahari memancarkan gelombang besar radiasi elektromagnetik dan partikel bermuatan yang mengaburkan pengukuran sinyal magnetik dari Bumi. Aktivitas menurun selama solar minimum, sehingga mempermudah satelit untuk menangkap sinyal-sinyal ini.
ESA awalnya merencanakan untuk mengakhiri misi Swarm pada 2017, tetapi hasil-hasil berharga yang diperoleh mendorong agensi untuk memperpanjangnya. Selama bertahun-tahun, gaya gesekan telah menarik satelit lebih dekat ke Bumi, memungkinkan instrumen di dalamnya untuk menangkap sinyal-sinyal lemah yang sebelumnya tidak dapat dideteksi pada orbit tinggi mereka yang asli.
"Ini adalah salah satu manfaat dari menjalankan misi lebih lama dari yang awalnya direncanakan," kata Anja Strømme, manajer misi Swarm ESA, dalam pernyataan tersebut. "Kita bisa mengatasi pertanyaan ilmiah yang sebelumnya tidak terbayangkan."
Studi baru ini menunjukkan satelit dapat menembus kedalaman lautan Bumi dan mengekstrak informasi yang berguna, kata Strømme.
Swarm bisa tetap beroperasi hingga 2030, ketika solar minimum berikutnya diperkirakan akan terjadi. Para ilmuwan berharap bahwa ini akan memberikan kesempatan langka lainnya untuk mendeteksi sinyal-sinyal tersembunyi dari lautan. (Live Science/Z-3)
Badan Antariksa Eropa (ESA) membuka proyek sains warga Space Warps. Publik diajak mencari lensa gravitasi langka dalam data Teleskop Euclid yang belum pernah dipublikasikan.
NASA mendukung misi European Space Agency ExoMars. Rover Rosalind Franklin ditargetkan meluncur 2028 untuk mencari jejak kehidupan di Mars.
Asteroid 99942 Apophis akan melintas sangat dekat ke Bumi pada 13 April 2029. NASA memastikan tidak ada ancaman tabrakan dalam 100 tahun ke depan.
Hubble merilis citra terbaru Nebula Trifid (M20) dengan detail luar biasa. Gambar ini mengungkap proses kelahiran bintang di galaksi Bimasakti.
Ilmuwan selidiki bercak gelap raksasa di Utopia Planitia, Mars, yang terus meluas selama 50 tahun. Apakah ini bukti aktivitas geologis atau sekadar angin?
Foto terbaru ESA mengungkap bercak abu vulkanik di Mars yang terus merayap sejauh 6,5 km per tahun. Apa penyebab fenomena misterius di Utopia Planitia ini?
Menurut para astronom, perbedaan ini terjadi karena faktor perspektif. Posisi pengamat di Bumi terutama perbedaan garis lintang membuat orientasi Bulan terlihat berbeda
Ilmuwan memprediksi pembentukan superbenua Pangea Ultima dalam 250 juta tahun ke depan akan memicu suhu ekstrem hingga 50°C dan mengancam kepunahan mamalia.
NASA merilis foto terbaru dari misi Artemis II, memperlihatkan sisi lain Bulan yang selama ini selalu hanya memperlihatkan satu wajah yang sama ke Bumi.
Misi Artemis II milik NASA mencatat sejarah baru dalam eksplorasi antariksa setelah para astronautnya berhasil menempuh jarak terjauh dari Bumi
Astronaut Artemis II terpukau melihat Bumi dari luar angkasa hingga menunda makan. Foto NASA ungkap keindahan planet biru dari kapsul Orion.
Empat astronot dalam misi Artemis II membagikan potret bumi dari luar angkasa yang langsung menarik perhatian publik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved