Prediksi Pangea Ultima: Superbenua Masa Depan yang Mengancam Kehidupan Mamalia

Abi Rama
14/4/2026 11:10
Prediksi Pangea Ultima: Superbenua Masa Depan yang Mengancam Kehidupan Mamalia
Ilustrasi(Freepik)

BAYANGKAN sebuah masa di mana seluruh daratan di Bumi kembali menyatu menjadi satu daratan raksasa yang dikelilingi samudra tak berujung. Para ilmuwan memprediksi fenomena ini akan terjadi sekitar 250 juta tahun ke depan, membentuk sebuah superbenua yang dinamai Pangea Ultima.

Namun, penyatuan ini bukanlah kabar baik bagi keberlangsungan hidup mamalia, termasuk manusia. Berdasarkan studi pemodelan iklim menggunakan superkomputer yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Geoscience, pembentukan Pangea Ultima diperkirakan akan memicu perubahan iklim ekstrem yang dapat membuat sebagian besar wilayah Bumi tidak lagi layak huni.

Lahirnya Pangea Ultima dan Ancaman Suhu Ekstrem

Pergerakan lempeng tektonik yang perlahan namun pasti akan menyatukan kembali benua-benua yang ada saat ini, mengulang sejarah Pangea yang terpecah sekitar 200 juta tahun lalu. Proses penyatuan ini diprediksi akan diikuti oleh lonjakan aktivitas vulkanik yang masif.

Gunung-gunung berapi akan melepaskan karbon dioksida (CO2) dalam jumlah besar ke atmosfer. Di sisi lain, daratan yang sangat luas dan jauh dari pengaruh pendinginan laut akan menghambat proses alami penyerapan CO2 oleh batuan dan air. Kondisi ini diperparah oleh faktor astronomis: Matahari yang semakin tua akan memancarkan energi sekitar 2,5% lebih kuat dibandingkan saat ini.

Kombinasi faktor-faktor tersebut diproyeksikan akan meningkatkan suhu global secara drastis. Berikut adalah perbandingan estimasi kondisi Bumi di masa depan dibandingkan dengan era pra-industri:

Indikator Era Pra-Industri Era Pangea Ultima (Estimasi)
Suhu Global Rata-rata ~14°C - 15°C 40°C – 50°C (Bisa lebih tinggi)
Wilayah Layak Huni Mamalia Sekitar 66% Hanya Sekitar 8%
Kondisi Daratan Utama Terpisah oleh Samudra Gurun Luas & Sangat Panas

Dominasi Reptil dan Adaptasi Kehidupan

Alexander Farnsworth, salah satu peneliti utama, menyebut bahwa Bumi akan menjadi lingkungan yang "sangat panas" dan tidak ramah. Dalam skenario terburuk, hanya wilayah pesisir dan kutub yang masih memungkinkan bagi mamalia untuk bertahan hidup. Sebaliknya, hewan berdarah dingin seperti reptil diprediksi memiliki peluang lebih besar untuk beradaptasi dan berpotensi kembali mendominasi planet ini.

Meski terdengar apokaliptik, para ilmuwan seperti Hannah Davies menilai kehidupan tidak akan sepenuhnya punah. Bumi telah melewati berbagai peristiwa kepunahan massal sebelumnya dan selalu berhasil memulihkan diri, meskipun melalui periode yang sangat sulit.

Jika manusia masih ada pada masa itu, strategi bertahan hidup mungkin akan berubah secara radikal, seperti:

  • Beralih menjadi makhluk nokturnal (beraktivitas hanya pada malam hari).
  • Membangun pemukiman di tempat yang lebih sejuk, seperti gua atau bawah tanah.
  • Mencari alternatif tempat tinggal di luar planet Bumi (migrasi antarbintang).
Catatan Penting: Meskipun proyeksi Pangea Ultima terjadi dalam skala waktu jutaan tahun, peneliti Eunice Lo mengingatkan bahwa ancaman suhu ekstrem akibat perubahan iklim sudah dirasakan saat ini. Upaya mencapai emisi karbon nol bersih tetap menjadi prioritas mendesak untuk melindungi kesehatan manusia di masa sekarang.

Studi ini menjadi pengingat kuat bahwa stabilitas iklim Bumi adalah hal yang rapuh. Baik karena siklus alami tektonik maupun aktivitas manusia, perubahan iklim membawa dampak besar bagi keberlangsungan seluruh makhluk hidup di planet biru ini. (Smithsonian Magazine/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya