Ilmuwan Ajak Publik Berburu "Lensa Gravitasi" Lewat Data Terbaru Teleskop Euclid

Thalatie K Yani
30/4/2026 13:45
Ilmuwan Ajak Publik Berburu
Kolase gambar Euclid menunjukkan contoh lensa gravitasi, di mana objek di latar depan membengkokkan dan mendistorsi cahaya dari fitur yang lebih jauh menjadi busur atau, dalam kasus yang jarang terjadi, cincin Einstein lengkap.(ESA/Euclid/Konsorsium Euclid/NASA, pengolahan gambar oleh M. Walmsley, M. Huertas-Company, J.-C. Cuillandre)

BADAN Antariksa Eropa (ESA) secara resmi meluncurkan proyek sains warga (citizen science) bertajuk "Space Warps". Proyek ini mengundang masyarakat umum untuk memindai gambar-gambar terbaru dari Teleskop Luar Angkasa Euclid guna mencari fenomena langka yang dikenal sebagai lensa gravitasi.

Lensa gravitasi terjadi ketika objek masif di latar depan, seperti galaksi atau gugus galaksi, melengkungkan ruang-waktu. Hal ini menyebabkan cahaya dari objek latar belakang yang lebih jauh menjadi bengkok dan membesar, menciptakan pemandangan kosmik yang luar biasa.

Memanfaatkan Mata Manusia

Meskipun saat ini teknologi kecerdasan buatan (AI) sudah sangat maju, mata manusia tetap dianggap lebih unggul dalam mengenali pola-pola aneh yang sering kali terlewatkan algoritma. Euclid sendiri mengirimkan sekitar 100 GB data ke Bumi setiap hari, jumlah yang terlalu besar untuk dianalisis oleh tim ilmuwan kecil sendirian.

"Kami tidak sabar untuk melihat apa yang akan kami temukan dalam kumpulan data yang belum pernah ada sebelumnya ini," ujar Aprajita Verma, salah satu pendiri Space Warps dan pimpinan proyek dari University of Oxford, Inggris. "Bergabunglah bersama kami di Space Warps untuk mengambil bagian dalam pencarian yang menarik ini!"

Peran Krusial Lensa Gravitasi

Fenomena "lengkungan ruang" ini bukan sekadar pemandangan indah di teleskop. Bagi para astronom, lensa gravitasi adalah alat ilmiah yang sangat kuat. Dengan memperbesar galaksi yang sangat jauh, lensa ini memungkinkan peneliti mempelajari objek yang seharusnya terlalu redup untuk dideteksi. Selain itu, fenomena ini memberikan petunjuk penting tentang distribusi materi gelap di seluruh alam semesta.

Melalui platform Zooniverse, peserta akan diperlihatkan sekitar 300.000 gambar pilihan AI yang disaring dari 72 juta galaksi. Para sukarelawan cukup menandai fitur yang menunjukkan adanya pelengkungan cahaya, seperti busur cahaya yang memanjang atau cincin cahaya yang dikenal sebagai "Cincin Einstein".

Terbuka untuk Umum

Siapa pun bisa berpartisipasi tanpa memerlukan latar belakang pendidikan sains. Peserta akan dipandu melalui contoh-contoh gambar dan tutorial singkat. Keistimewaan lainnya, sukarelawan dapat melihat gambar-gambar alam semesta yang belum pernah dirilis ke publik secara resmi.

Hingga saat ini, lebih dari 2.500 sukarelawan telah bergabung. Keberhasilan proyek ini telah terbukti; pada Maret 2025, sebanyak 500 lensa gravitasi baru ditemukan hanya dari 0,04% data awal Euclid. Para peneliti memperkirakan bahwa bantuan publik dapat membantu mengidentifikasi lebih dari 10.000 kandidat lensa baru di masa mendatang.

Upaya kolektif ini tidak hanya menambah basis data ilmiah, tetapi juga membantu melatih sistem kecerdasan buatan agar lebih akurat di masa depan. Space Warps membuktikan bahwa di era data besar saat ini, penemuan besar di luar angkasa bisa datang dari siapa saja yang memiliki koneksi internet dan rasa ingin tahu yang tinggi. (Space/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya