DEPARTEMEN Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) mengajukan permintaan anggaran fantastis sebesar US$1,5 triliun atau sekitar Rp26 kuadriliun untuk tahun fiskal mendatang. Angka ini mencatatkan kenaikan drastis sebesar 50% dibandingkan tahun lalu, namun para pejabat memperingatkan bahwa nilai tersebut belum mencakup biaya operasional perang melawan Iran.
Pejabat keuangan utama Pentagon, Jules Hurst III, mengungkapkan bahwa draf anggaran tersebut disusun sebelum pecahnya konflik terbuka dengan Teheran. "Anggaran ini, jujur saja, dirumuskan sebelum kita terlibat konflik dengan Iran," ujar Hurst dalam pengarahan pers pada 21 April.
Beban Tambahan Ratusan Miliar Dolar
Meskipun angka US$1,5 triliun sudah sangat besar, nilai tersebut belum memperhitungkan kerugian infrastruktur, amunisi yang terpakai, serta kerusakan peralatan tempur di medan perang. Laporan internal menunjukkan bahwa pemerintahan Trump berencana meminta dana tambahan (supplemental funding) kepada Kongres lebih dari US$200 miliar atau sekitar Rp3 kuadriliun khusus untuk membiayai perang di Iran.
Direktur Anggaran Gedung Putih, Russell Vought, saat didesak oleh anggota parlemen dalam sidang kongres pekan lalu, mengaku belum bisa memberikan estimasi kasar mengenai total biaya perang. "Kami belum siap mengajukan permintaan kepada Anda. Kami masih mengerjakannya," jelas Vought.
Baca juga : Mengapa Harga Bensin di AS Lebih Murah ketimbang Negara Lain
Restrukturisasi Pangkalan dan Persenjataan
Pentagon kini memfokuskan anggaran sebesar US$31,8 miliar untuk memproduksi amunisi baru tahun depan. Fokus utama dialokasikan pada sistem pertahanan udara tingkat tinggi yang sangat mahal, seperti rudal Patriot dan THAAD, yang stoknya terkuras cepat selama konflik berlangsung.
Baca juga: Pro Kontra Trump Baca Alkitab di Ruang Oval
Hurst menambahkan bahwa perang ini akan mengubah strategi militer AS di kawasan tersebut secara permanen. "Kita mungkin akan mengubah cara kita membangun pangkalan di Timur Tengah berdasarkan pelajaran yang dipetik dari konflik ini," katanya.
Upaya pemulihan pasokan senjata (stockpile replenishment) kini menjadi prioritas utama dalam pembicaraan antara Pentagon dan Kongres. Kenaikan anggaran ini diprediksi akan menambah beban pajak bagi warga Amerika hingga ratusan miliar dolar dalam beberapa tahun ke depan seiring dengan berlanjutnya ketidakpastian di Timur Tengah. (USA Today/I-2)
Baca juga: Iran Sita Dua Kapal di Selat Hormuz, Harga Minyak Meroket
