Analisis John Mearsheimer: Posisi AS Terjepit, Iran Pegang Kendali Strategis

Media Indonesia
21/4/2026 15:37
Analisis John Mearsheimer: Posisi AS Terjepit, Iran Pegang Kendali Strategis
John Mearsheimer.(The Chris Hedges YouTube Channel)

DALAM diskusi mendalam mengenai eskalasi krisis di Timur Tengah di The Chris Hedges YouTube Channel, pakar ilmu politik terkemuka dari Universitas Chicago Profesor John Mearsheimer memberikan analisis tajam mengenai posisi Amerika Serikat yang kian terjepit. Menurutnya, pemerintahan Donald Trump kini menghadapi realitas pahit.

Iran dinilai memegang kendali strategis, terutama melalui penguasaan atas Selat Hormuz. Berikut rangkuman diskusi tersebut.

Iran di Kursi Pengemudi: Kegagalan Eskalasi AS

Mearsheimer berpendapat bahwa upaya AS untuk menaiki tangga eskalasi melawan Iran merupakan strategi yang sia-sia. Ia menegaskan bahwa Iran justru berada dalam posisi diuntungkan jika konflik berlarut-larut. Semakin sedikit minyak yang keluar dari Teluk Persia, semakin besar tekanan ekonomi yang akan menghantam dunia, yang pada akhirnya memaksa AS untuk berkompromi.

Poin-poin utama dari analisis Mearsheimer meliputi:

  • Kontrol Selat Hormuz: Iran secara efektif dapat mendikte syarat-syarat perdagangan energi global, bahkan menerapkan sistem gerbang tol yang menggunakan mata uang selain dolar AS (seperti yuan Tiongkok).
  • Kegagalan Empat Tujuan Utama: AS dinilai gagal total dalam mencapai empat targetnya yaitu penghapusan kemampuan pengayaan nuklir Iran, penghentian dukungan terhadap proksi (Hizbullah, Hamas, Houthi), penghancuran rudal balistik, dan perubahan rezim.
  • Dilema Ekonomi: Trump sangat putus asa untuk menghindari tabrakan dengan gunung es ekonomi global. Gangguan pada pasokan minyak, gas, helium, dan pupuk dari kawasan Teluk dapat memicu bencana ekonomi yang akan menghancurkan peluang politik domestiknya.
Catatan Strategis: Mearsheimer menyebut perilaku Trump sebagai Mad King (Raja yang Gila) karena sifatnya yang impulsif, tidak menghormati keahlian diplomatik, dan sering kali mengabaikan saran dari kepala intelijen serta militer demi mengikuti agenda pihak luar.

Tekanan Lobi Israel dan Kebijakan Luar Negeri

Salah satu hambatan terbesar bagi terciptanya perdamaian yang bermakna, menurut penulis buku The Israel Lobby and U.S. Foreign Policy itu, yakni pengaruh kuat lobi pro-Israel di Washington. Meskipun diskursus publik di AS mulai terbuka dalam mengkritik Israel, pada level kebijakan, lobi tersebut masih memiliki cengkeraman maut terhadap pemerintahan Trump.

Israel, di bawah pemerintahan Netanyahu, dinilai tidak memiliki kepentingan untuk menyelesaikan perang. Sebaliknya, mereka ingin melihat Iran dikalahkan secara telak. Tujuan ini menurut Mearsheimer hampir mustahil dicapai tanpa menyeret AS ke dalam perang besar yang merusak ekonomi dunia.

Bukan Momen Suez bagi Amerika

Menanggapi pertanyaan apakah ini merupakan Momen Suez bagi Amerika Serikat--merujuk pada krisis tahun 1956 yang menandai berakhirnya status Inggris sebagai kekuatan utama dunia--Mearsheimer memberikan pandangan berbeda. Ia menyatakan bahwa AS tetaplah negara yang sangat kuat secara militer dan ekonomi (multipolar), berbeda dengan Inggris yang memang sedang mengalami penurunan kekuatan saat itu.

Masalah utama Amerika saat ini bukanlah kehilangan kekuatan, melainkan ketidakmampuan para pemimpinnya, baik di era Biden maupun Trump, untuk menggunakan kekuatan tersebut secara cerdas dan bertanggung jawab. "Kita berperilaku dengan cara yang sangat bodoh," pungkas Mearsheimer, merujuk pada pengabaian hukum internasional dan institusi global yang justru memperburuk stabilitas kawasan.

Dengan berakhirnya gencatan senjata yang rapuh, dunia kini menanti apakah Washington akan memilih jalur diplomasi yang pahit dengan Iran atau terus ditekan oleh kepentingan lobi untuk melakukan eskalasi yang berisiko memicu keruntuhan ekonomi global. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya