Rusia Tawarkan Ambil Uranium Iran, AS Langsung Menolak

Ferdian Ananda Majni
17/4/2026 11:00
Rusia Tawarkan Ambil Uranium Iran, AS Langsung Menolak
Nuklir Iran.(Al Jazeera)

RUSIA mengusulkan untuk mengambil alih kepemilikan uranium yang diperkaya milik Iran sebagai bagian dari solusi diplomatik atas konflik yang berkepanjangan. Namun, gagasan tersebut ditolak oleh Amerika Serikat (AS).

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengungkapkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin telah mengajukan proposal tersebut dan menilainya sebagai langkah yang konstruktif.

"Rusia siap menerima uranium yang diperkaya milik Iran di wilayahnya," kata Peskov dilansir RIA Novosti, Jumat (17/4).

"Ini akan menjadi keputusan yang baik. Namun, sayangnya pihak Amerika menolak proposal ini," tambahnya.

Menurut Peskov, Rusia tetap membuka kemungkinan untuk kembali membahas usulan tersebut jika diminta oleh pihak-pihak terkait.

Sejumlah laporan media menyebutkan bahwa Moskow pertama kali menawarkan skema pengambilalihan uranium Iran pada Juni tahun lalu, tetapi tidak berlanjut. Proposal tersebut kemudian kembali diajukan dalam beberapa waktu terakhir.

Di sisi lain, laporan media AS yang mengutip sumber-sumber terkait menyebut bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump menolak usulan tersebut. 

Sementara itu, Iran dilaporkan masih mempertimbangkan langkah selanjutnya, bergantung pada hasil negosiasi dengan Washington, khususnya terkait program nuklirnya.

Selama ini, pemerintah AS menjadikan keberadaan uranium yang diperkaya oleh Iran serta potensi pengembangannya menjadi senjata nuklir sebagai salah satu alasan utama dalam kebijakan militernya terhadap Teheran.

Sebelumnya, seorang wakil Menteri Luar Negeri Rusia juga menyatakan kesiapan Moskow untuk memindahkan stok uranium Iran dan mengolahnya menjadi bahan bakar reaktor sipil sebagai bagian dari upaya mendukung proses diplomasi.

Pemindahan uranium tersebut memang menjadi salah satu tuntutan utama AS dalam perundingan damai guna mengakhiri konflik yang berlangsung sejak 28 Februari. 

Diperkirakan sekitar 450 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan hingga 60 persen berada di fasilitas nuklir Iran yang sebelumnya menjadi target serangan AS dan Israel.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, bahkan menyatakan bahwa Iran harus menyerahkan stok tersebut.

"Iran akan menyerahkan stok tersebut secara sukarela atau AS akan mengambilnya dengan cara-cara lainnya," tegasnya.

Dalam pernyataannya, Peskov juga menolak alasan yang digunakan untuk membenarkan serangan terhadap Iran. Ia menegaskan bahwa Badan Energi Atom Internasional (IAEA) tidak pernah menemukan bukti bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir.

Ia menyebut tuduhan tersebut digunakan sebagai dalih untuk agresi.

Terkait kemungkinan dukungan Rusia kepada Iran, Peskov menegaskan negaranya tidak terlibat langsung dalam konflik tersebut.

"Rusia tidak ikut serta dalam hal ini. Ini bukanlah perang kami," ujarnya.

Namun demikian, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Rusia memberikan bantuan militer kepada Iran dalam berbagai arah, tanpa merinci bentuk dukungan tersebut.

Sementara itu, utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, mengatakan bahwa Presiden Putin telah meyakinkan Trump bahwa Rusia tidak berbagi informasi intelijen dengan Iran. (I-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya