Resmi! Gencatan Senjata Israel-Libanon 10 Hari Berlaku

Thalatie K Yani
17/4/2026 06:13
Resmi! Gencatan Senjata Israel-Libanon 10 Hari Berlaku
Gencatan senjata antara Israel dan Libanon resmi berlaku selama 10 hari. Kesepakatan yang dimediasi AS ini disambut baik PBB namun diwarnai skeptisisme warga.(Media Sosial X)

KESEPAKATAN gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Libanon yang diumumkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, resmi diberlakukan. Langkah ini menjadi babak baru dalam upaya meredam konflik di kawasan tersebut, meski dibayangi oleh ketegangan yang masih menyelimuti perbatasan hingga menit terakhir.

Presiden Libanon, Joseph Aoun, menyambut baik kesepakatan tersebut. Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut momen ini sebagai kesempatan "bersejarah" untuk mewujudkan perdamaian.

Peran Diplomatik dan Syarat Iran

Gencatan senjata ini disebut-sebut sebagai bagian dari kesepakatan awal antara Iran dan Amerika Serikat yang dimediasi Pakistan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baqai, menyatakan  pihaknya sejak awal menekankan perlunya gencatan senjata serentak di seluruh wilayah, termasuk Libanon.

Baqai juga menyatakan solidaritasnya bagi rakyat Libanon dan menuntut penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah Libanon Selatan. Namun, tuntutan ini berbenturan dengan pernyataan PM Netanyahu sebelumnya yang menyatakan tidak akan menarik pasukannya. Selain itu, Iran mendesak pembebasan semua tahanan dan pemulangan warga yang mengungsi ke rumah mereka masing-masing.

Baku Tembak Hingga Menit Terakhir

Meskipun kesepakatan telah diumumkan, ketegangan di lapangan tidak langsung mereda. Menjelang detik-detik berlakunya gencatan senjata, kelompok Hizbullah dan pasukan Israel (IDF) masih terpantau saling meluncurkan serangan lintas batas.

Hizbullah mengonfirmasi telah menembakkan roket ke beberapa sasaran di Israel utara, termasuk kota Karmiel, Nahariyya, dan penyeberangan perbatasan Rosh HaNikra. Di sisi lain, IDF melaporkan tim pencari dan penyelamat telah beroperasi di titik-titik serangan dan langsung membalas dengan menyerang lokasi peluncuran roket milik Hizbullah.

Reaksi Beragam dari Masyarakat

Sentimen masyarakat di Israel terbelah menanggapi berita ini. Di Tel Aviv, seorang pengacara berusia 66 tahun mengungkapkan harapannya. 

Namun, nada skeptis terdengar dari kalangan mahasiswa di Universitas Tel Aviv yang meragukan apakah organisasi seperti Hezbollah akan mematuhi aturan. Sementara itu, di kota Haifa, seorang warga justru menganggap gencatan senjata ini sebagai kesalahan besar karena mustahil bernegosiasi dengan kelompok yang dianggapnya sebagai organisasi teroris.

Dukungan PBB

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, melalui juru bicaranya, Stephane Dujarric, menyambut baik penghentian pertempuran ini dan mengapresiasi peran Amerika Serikat sebagai fasilitator.

"Sekretaris Jenderal mendesak semua aktor untuk sepenuhnya menghormati gencatan senjata dan mematuhi kewajiban mereka di bawah hukum internasional, termasuk hukum kemanusiaan internasional, setiap saat," tegas Dujarric. Guterres berharap jeda 10 hari ini dapat membuka jalan bagi negosiasi perdamaian yang lebih permanen. (BBC/AFP/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya