Enggan Dikadali Israel, Hizbullah Ajukan 5 Syarat Akhiri Konflik

Ferdian Ananda Majni
27/4/2026 19:10
Enggan Dikadali Israel, Hizbullah Ajukan 5 Syarat Akhiri Konflik
Bendera Libanon dan Hizbullah(Anadolu)

SEKRETARIS Jenderal Hizbullah Naim Qassem kembali menegaskan penolakan terhadap negosiasi langsung antara Libanon dan Israel, sekaligus memaparkan lima syarat utama yang menurutnya harus dipenuhi untuk mengakhiri konflik yang sedang berlangsung.

Dalam pernyataan pada Senin (27/4), Qassem menyebut kelompoknya menolak tegas dialog langsung dengan Israel dan menegaskan bahwa Hizbullah akan tetap melanjutkan perlawanan defensifnya serta tidak akan menyerahkan senjata.

Ia juga mengkritik pelaksanaan dua putaran pembicaraan langsung antara Libanon dan Israel yang berlangsung di Washington beberapa hari lalu di bawah mediasi Amerika Serikat (AS). Pertemuan tersebut menjadi yang pertama dalam lebih dari empat dekade.

"Dalam suasana pengorbanan dan martabat serta kekalahan musuh ini, otoritas (Libanon) terburu-buru melakukan konsesi bebas yang memalukan dan tidak perlu, yang satu-satunya pembenarannya adalah penyerahan diri," kata Qassem dilansir Anadolu, Senin (27/4).

Menurutnya, penyelesaian konflik harus dimulai dengan pemenuhan lima poin utama. "Titik masuk dan solusinya adalah mencapai lima poin sebelum hal lain," tegasnya.

Lima poin yang dimaksud meliputi penghentian serangan di darat, laut, dan udara, penarikan pasukan Israel dari wilayah yang diduduki, pembebasan tahanan, kembalinya warga ke daerah asal mereka, serta pelaksanaan rekonstruksi. Qassem juga mengkritik pemerintah Libanon yang dinilai tidak mewakili kepentingan rakyat.

"Pemerintahan ini tidak dapat terus berkuasa sementara mereka mengabaikan hak-hak Libanon, menyerahkan tanah, dan menghadapi rakyatnya yang menentang," ujarnya.

Ia turut menyerukan agar pemerintah kembali merujuk pada konsensus nasional sebagaimana tertuang dalam Kesepakatan Taif. Qassem menilai pemerintahan seharusnya mencerminkan kehendak rakyat, bukan kepentingan kelompok tertentu.

Konflik antara Israel dan Hizbullah telah menimbulkan dampak besar. Berdasarkan data resmi Libanon, lebih dari 2.500 orang tewas dan lebih dari 1,6 juta lainnya mengungsi sejak serangan Israel meningkat pada awal Maret.

Upaya meredakan ketegangan sempat dilakukan melalui gencatan senjata selama 10 hari yang diumumkan pada 17 April, meskipun pelanggaran masih kerap terjadi.

Pada Kamis (25/4), Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Libanon dan Israel sepakat memperpanjang gencatan senjata selama tiga minggu setelah pembicaraan lanjutan di Washington.

Di tengah situasi tersebut, Hizbullah juga melancarkan sejumlah serangan menggunakan pesawat tak berawak yang menargetkan pasukan Israel di wilayah Libanon selatan dan Israel utara. Serangan tersebut diklaim sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata oleh pihak Israel. (Fer/P-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya