Peacekeeper Prancis Kedua Tewas di Libanon, Presiden Aoun Kecam Serangan Terhadap UNIFIL

Thalatie K Yani
23/4/2026 05:41
Peacekeeper Prancis Kedua Tewas di Libanon, Presiden Aoun Kecam Serangan Terhadap UNIFIL
Ketegangan di Libanon Selatan meningkat setelah prajurit UNIFIL asal Prancis kembali gugur. Macron tuding Hizbullah, sementara Presiden Aoun sampaikan duka mendalam.(Unifil)

PRESIDEN Libanon, Joseph Aoun, menyampaikan kecaman keras atas insiden mematikan yang menewaskan prajurit penjaga perdamaian (peacekeeper) asal Prancis kedua di wilayah Libanon Selatan. Serangan ini terjadi setelah patroli Pasukan Sementara PBB di Libanon (UNIFIL) menjadi sasaran tembakan pada Sabtu pekan lalu.

Melalui pernyataan resmi dari kantor kepresidenan, Presiden Aoun menegaskan kembali sikapnya terhadap kekerasan yang menargetkan pasukan internasional tersebut.

"Presiden memperbaharui kecamannya atas insiden tersebut, serta menyampaikan belasungkawa kembali kepada negara Prancis dan kepemimpinan UNIFIL," demikian bunyi pernyataan resmi tersebut.

Kronologi Kematian Prajurit Kedua

Kabar duka ini pertama kali dikonfirmasi oleh Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Melalui unggahan di platform X, Macron mengumumkan Kopral Anicet Girardin meninggal dunia pada Rabu pagi waktu setempat.

Girardin merupakan salah satu prajurit yang menderita luka serius dalam serangan hari Sabtu. Ia sempat dipulangkan ke Prancis pada Selasa kemarin untuk mendapatkan perawatan intensif sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir. Kematian Girardin menambah daftar korban gugur dari kontingen Prancis setelah satu rekan sejawatnya tewas seketika di lokasi kejadian saat patroli mereka dihujani peluru.

Selain dua korban tewas, dilaporkan dua anggota pasukan perdamaian lainnya masih menjalani perawatan akibat luka-luka yang diderita dalam insiden yang sama.

Saling Tuding di Tengah Gencatan Senjata

Presiden Macron secara terbuka menuding kelompok Hizbullah yang didukung Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan berdarah tersebut. Namun, Hizbullah dengan tegas membantah tuduhan itu dan menyatakan bahwa mereka tidak memiliki "kaitan apa pun" dengan insiden tersebut.

Tragedi ini menjadi ujian berat bagi stabilitas keamanan di wilayah perbatasan. Macron menyatakan kekhawatiran mendalam bahwa operasional militer yang terus berlanjut dapat merusak kesepakatan gencatan senjata antara Hizbullah dan Israel yang sedang berjalan.

"Macron mendukung penuh gencatan senjata antara Hizbullah dan Israel, dan merasa khawatir hal itu mungkin sudah dirusak oleh kelanjutan operasi militer," lapor sumber pemerintah Prancis.

Dalam pernyataan lanjutannya, Macron menyerukan agar Hizbullah segera meletakkan senjata mereka dan mendesak Israel untuk menghormati kedaulatan wilayah Libanon guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan tersebut. Saat ini, UNIFIL tetap bersiaga di tengah situasi yang kian rentan, sementara otoritas terkait terus melakukan investigasi mendalam atas serangan terhadap patroli perdamaian tersebut. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya