Akankah Baguette Lenyap? Krisis Tradisi Roti di Meja Makan Prancis

Thalatie K Yani
21/4/2026 12:15
Akankah Baguette Lenyap? Krisis Tradisi Roti di Meja Makan Prancis
Ilustrasi(freepik)

PADA 2022, perayaan besar menyelimuti Paris saat roti baguette resmi menyandang status warisan budaya takbenda dari UNESCO. Presiden Emmanuel Macron bahkan memuji baguette sebagai "250 gram keajaiban dan kesempurnaan dalam kehidupan sehari-hari kita." Namun, di balik seremonial tersebut, sebuah ancaman nyata membayangi: masyarakat Prancis mulai berhenti makan roti.

Data dari Federasi Pengusaha Toko Roti menunjukkan penurunan drastis. Pasca Perang Dunia II, rata-rata orang Prancis mengonsumsi 25 ons roti per hari. Pada 2015, angka itu anjlok menjadi 4 ons, dan kini hanya tersisa 3,5 ons, setara kurang dari setengah batang baguette sehari.

Perubahan Gaya Hidup Generasi Muda

Dominique Anract, Presiden Konfederasi Nasional Toko Roti Prancis (CNBPF), menyebut ritual membeli baguette setiap pagi kini mulai memudar, terutama di kalangan anak muda. “Salah satu ancamannya adalah fakta bahwa kaum muda mulai kehilangan kebiasaan membeli baguette setiap hari,” ujar Anract.

Generasi baru di Prancis kini lebih jarang memasak dan lebih sering memilih makanan cepat saji seperti burger, kebab, atau sushi. Selain itu, kepraktisan roti tawar iris ala Amerika yang tahan lama di lemari es mulai menggeser posisi baguette yang cepat mengeras.

Munculnya Tren 'Neobakery'

Di tengah penurunan ini, muncul gelombang baru yang disebut "neoboulangeries" atau toko roti neo. Mereka fokus pada biji-bijian kuno, tepung organik, dan fermentasi sourdough yang lebih lama. Uniknya, beberapa toko roti ini justru berani tidak menjual baguette sama sekali.

Marion Juhel, pemilik Seize Heures Trente di Rennes, adalah salah satunya. Baginya, baguette adalah produk yang boros energi, memiliki nilai gizi rendah, dan cepat basi sehingga memicu pemborosan makanan. Sebagai gantinya, ia menjual roti gandum besar berdasarkan berat.

“Masyarakat Prancis mengharapakan toko roti memiliki baguette. Fakta bahwa kami menyatakan diri sebagai toko roti tetapi tidak menyediakannya adalah hal yang tak terbayangkan bagi mereka,” kata Juhel kepada CNN.

Kualitas vs. Keterjangkauan

Benoît Castel, perintis gerakan roti modern di Paris, berpendapat bahwa meskipun konsumsi menurun, kualitas roti yang dimakan masyarakat Prancis justru meningkat. “Saya pikir kita belum pernah memakan roti sebagus sekarang,” ungkapnya.

Namun, Éric Kayser, pemilik jaringan toko roti global, mengingatkan adanya sisi ekonomi yang kontras. Harga baguette tradisional biasanya hanya sekitar €1,30 (sekitar Rp22.000), sementara roti spesial di toko roti elit bisa mencapai €7 (sekitar Rp120.000).

“Tujuan baguette adalah untuk memberi makan banyak orang. Toko roti (elit) itu tidak salah, tapi hanya sesuai untuk jenis pelanggan kelas menengah tertentu,” jelas Kayser.

Meski diterjang perubahan zaman, para pelaku industri yakin baguette tidak akan benar-benar punah. Adaptasi dalam bentuk sandwich baguette dan kreasi rasa baru menjadi kunci untuk bertahan. Seperti yang ditegaskan Anract, toko roti di Prancis akan selalu menemukan cara untuk menemukan kembali jati diri mereka di tengah krisis. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya