Dampak Konflik Timur Tengah: Warisan Budaya Dunia Unesco dan Universitas di Iran Hancur

Ferdian Ananda Majni
15/4/2026 13:35
Dampak Konflik Timur Tengah: Warisan Budaya Dunia Unesco dan Universitas di Iran Hancur
Salah satu bangunan universitas yang rusak di Iran.(Dok. Aljazeera/Maziar Motamedi)

ESKALASI konflik Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel di wilayah Iran dilaporkan telah menimbulkan dampak katastropik yang meluas. Selain menyasar infrastruktur strategis, serangan udara tersebut kini dilaporkan menghancurkan warisan budaya dunia Unesco, fasilitas pendidikan, serta pusat penelitian ilmiah yang menjadi tulang punggung identitas nasional Iran.

Berdasarkan data yang dirilis pemerintah Iran, meskipun pihak Washington dan Tel Aviv mengklaim serangan difokuskan pada target militer, kenyataan di lapangan menunjukkan kerusakan signifikan pada fasilitas sipil. Laporan media lokal mencatat sedikitnya 56 situs warisan budaya, 30 universitas, dan 55 perpustakaan mengalami kerusakan berat hingga hancur total sejak konflik Timur Tengah tersebut pecah.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Iran, Reza Salehi Amiri, mengecam keras penghancuran ini. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai upaya sistematis untuk menghapus identitas nasional Iran. "Serangan yang disengaja dan sadar telah menghantam warisan budaya kami," tegas Amiri dalam sebuah wawancara resmi.

Tragedi Kemanusiaan di Sektor Pendidikan

Salah satu insiden paling mematikan terjadi pada 28 Februari 2024, ketika sebuah sekolah dasar putri di Minab menjadi sasaran rudal. Tragedi ini menewaskan sedikitnya 170 orang, yang mayoritas merupakan anak perempuan berusia 7 hingga 12 tahun.

Meski Presiden AS saat itu, Donald Trump, membantah keterlibatan negaranya, investigasi dari berbagai organisasi hak asasi manusia, termasuk Amnesty International, menunjukkan indikasi kuat penggunaan rudal Tomahawk buatan AS dalam serangan tersebut.

Di level pendidikan tinggi, serangan dilaporkan menyasar institusi-institusi elit, antara lain:

  • Universitas Sains dan Teknologi Iran (Teheran): Mengalami kerusakan berat pada akhir Maret, termasuk kehancuran pusat penelitian satelit domestik.
  • Universitas Shahid Beheshti: Institut Penelitian Laser dan Plasma menjadi sasaran, yang memicu kecaman atas serangan terhadap kebebasan berpikir dan dunia akademik.
  • Universitas Teknologi Sharif: Terkena serangan pada 6 April yang diduga menggunakan bom penghancur bunker (bunker buster).
  • Institut Pasteur: Fasilitas ilmiah yang telah beroperasi lebih dari satu abad ini turut terdampak.

Menteri Sains, Riset, dan Teknologi Iran, Hossein Simaei Saraf, menyebut serangan ini sebagai kemunduran peradaban. "Menyerang universitas dan pusat penelitian berarti kembali ke Zaman Batu," ujarnya sebagaimana dikutip dari Al Jazeera, Rabu (15/4).

Warisan Dunia UNESCO dalam Bahaya

Kerusakan budaya tidak hanya terkonsentrasi di Teheran, tetapi juga merambah ke kota bersejarah Isfahan. Situs-situs ikonik seperti Istana Golestan, Grand Bazaar Tehran, Istana Chehel Sotoun, hingga Masjid Jame Isfahan dilaporkan terdampak.

UNESCO, yang sebelumnya telah membagikan koordinat lokasi warisan budaya kepada pihak-pihak yang bertikai untuk mencegah kerusakan, mengonfirmasi adanya dampak fisik pada sejumlah situs bersejarah tersebut. Masjid Jame Isfahan sendiri merupakan situs warisan dunia yang merepresentasikan arsitektur Islam selama 12 abad.

"Restorasi, sesempurna apa pun, tidak akan pernah dapat mengembalikan artefak ke titik awalnya. Setiap retakan adalah bekas luka permanen pada sejarah fisik yang tidak dapat dibuat lagi," tambah Amiri.

Strategi Pelemahan Kapasitas Bangsa

Ali Vaez dari International Crisis Group menilai bahwa penghancuran sektor pendidikan dan budaya adalah bagian dari strategi untuk melemahkan kapasitas pembangunan jangka panjang Iran. Tujuannya adalah untuk mencegah negara tersebut melakukan rekonstruksi pasca-perang.

Senada dengan itu, analis Christopher Featherstone menyoroti perubahan retorika pemerintah AS. Menurutnya, penggunaan narasi yang ekstrem cenderung menormalisasi serangan terhadap fasilitas sipil, sebuah pergeseran dari komunikasi diplomatik tradisional yang biasanya menyebut insiden serupa sebagai "kejadian luar biasa yang tidak disengaja".

Hingga saat ini, situasi dan dmapak Konflik Timur Tengah di Iran masih terus dipantau oleh lembaga internasional seiring dengan meningkatnya kekhawatiran akan hilangnya bukti-bukti peradaban manusia yang tak ternilai harganya di wilayah tersebut. (AFP/H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya