Negosiasi Nuklir Iran-AS di Islamabad Mentok pada Lama Moratorium

Wisnu Arto Subari
15/4/2026 06:17
Negosiasi Nuklir Iran-AS di Islamabad Mentok pada Lama Moratorium
Ilustrasi.(Freepik)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump tetap berpendapat bahwa peningkatan tekanan AS terhadap Iran, termasuk blokade ekspor minyaknya melalui Selat Hormuz, pada akhirnya akan memaksa rezim tersebut untuk menyerah pada tuntutannya bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.

Menyebut penolakan Teheran untuk membuat janji tersebut sebagai titik permasalahan yang menyebabkan kegagalan negosiasi akhir pekan lalu di Islamabad, Trump mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih pada Senin (13/4) bahwa ia yakin akan menang. 

"Kami menyetujui banyak hal, tetapi mereka tidak menyetujui hal itu," katanya tentang janji nuklir tersebut. "Saya pikir mereka akan menyetujuinya. Saya hampir yakin akan hal itu. Bahkan, saya yakin akan hal itu."

Teheran telah lama mengatakan bahwa mereka tidak berniat memproduksi senjata nuklir. Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi yang tewas dalam serangan udara Israel pada awal perang, telah lama mengeluarkan fatwa atau keputusan menentang senjata nuklir. Para pemimpin negara saat ini tampaknya siap untuk mengulangi dekrit tersebut sebanyak yang diperlukan dalam upaya mengakhiri konflik.

Namun, yang sebenarnya dibicarakan Trump ialah tuntutannya agar Teheran melepaskan semua elemen program nuklir yang memungkinkan mereka membangun bom jika suatu saat berubah pikiran. Ini termasuk kemampuan untuk memperkaya uranium sendiri dan sentrifugal canggih yang memungkinkan mereka melakukannya.

Dalam pembicaraan akhir pekan lalu, Wakil Presiden JD Vance, kepala tim negosiasi AS, menawarkan moratorium 20 tahun untuk semua pengayaan uranium Iran, menurut dua orang yang mengetahui masalah ini dan berbicara dengan syarat anonim untuk membahas pembicaraan yang sensitif tersebut. Iran menawarkan tiga hingga lima tahun. Masing-masing menolak tawaran pihak lain.

Melepaskan program nuklirnya merupakan garis merah Trump dan mempertahankannya menjadi batasan Iran. Teheran mempertahankan bahwa keanggotaannya dalam Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir memungkinkan mereka untuk melakukan pengayaan. Meskipun perjanjian tersebut tidak secara eksplisit menyebutkan hak tersebut, perjanjian tersebut juga tidak secara tegas melarangnya.

"Tantangan besar bagi pemerintahan yaitu bagi Iran, program pengayaan nuklir mereka telah menjadi inti dari perjuangan mereka selama bertahun-tahun," kata Christine Wormuth, mantan sekretaris Angkatan Darat AS yang sekarang memimpin Inisiatif Ancaman Nuklir. "Ini bagian dari identitas rezim secara keseluruhan, sumber kebanggaan nasional, dan dianggap sebagai salah satu alasan masyarakat harus menanggung kesulitan (ekonomi)."

"Kekhawatiran saya sejak perang terbaru dimulai," katanya. Tekanan pemerintah akan meyakinkan Iran tentang perlunya bergegas membuat bom. 

Trump mungkin percaya dia dapat menekan mereka untuk tunduk. Sebagian besar kepemimpinan saat ini ialah penyintas perang Iran-Irak yang brutal selama delapan tahun pada beberapa dekade lalu. "Mereka tampaknya memiliki toleransi rasa sakit yang sangat tinggi," kata Wormuth.

Pemerintahan AS secara keliru mengatakan bahwa Iran ialah satu-satunya negara di dunia tanpa senjata nuklir yang memiliki kemampuan pengayaan sendiri. Brasil, Argentina, Jepang, dan konsorsium Eropa mengoperasikan fasilitas pengayaan sipil.

Namun, Iran ialah satu-satunya negara yang mengembangkan dan menggunakan sentrifugal canggih untuk memperkaya uranium hingga mendekati tingkat senjata nuklir yang tidak memiliki tujuan sipil.

Menurut Badan Energi Atom Internasional, Iran menimbun sekitar 970 pon gas uranium heksafluorida yang diperkaya hingga 60 persen. Material tersebut diyakini terkubur dalam tabung di bawah reruntuhan fasilitas penyimpanan bawah tanah yang dibom oleh AS Juni lalu, sebelum perang saat ini. 

Banyak ahli nuklir memperkirakan dibutuhkan waktu hingga satu tahun bagi Iran untuk mengubah material fisil menjadi hulu ledak. Yang lain mengatakan hal itu dapat dilakukan--asalkan Iran memiliki pengetahuan--dalam hitungan minggu.

Beberapa hari sebelum negosiasi akhir pekan di Pakistan, Trump mengatakan dalam unggahan media sosial bahwa tidak akan ada pengayaan uranium. "Amerika Serikat, bekerja sama dengan Iran, akan menggali dan melenyapkan uranium tersebut."

Meskipun Trump menyatakan bahwa Iran harus mengakhiri semua pengayaan selamanya, Vance menawarkan moratorium 20 tahun, "Dengan berbagai macam pembatasan lain," kata orang-orang yang mengetahui hal itu. Tawaran itu pertama kali dilaporkan oleh Axios.

Tawaran itu, yang ditolak oleh Iran, mengingatkan pada moratorium 15 tahun yang merupakan bagian dari kesepakatan nuklir yang dinegosiasikan oleh pemerintahan Obama, Inggris, Prancis, dan Jerman yang ditandatangani dengan Teheran pada tahun 2015. Trump menarik AS dari perjanjian tersebut, yang dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA), selama masa jabatan pertamanya dan bersumpah akan menegosiasikan perjanjian yang lebih baik.

Baik uranium yang sangat diperkaya maupun sentrifugal yang memproduksinya tidak ada pada saat JCPOA dan perjanjian tersebut, dengan verifikasi IAEA yang invasif, melarangnya. Di bawah kesepakatan era Obama, Iran diizinkan untuk terus memperkaya uranium hingga 3,67 persen dalam jumlah terbatas. Sejumlah uranium yang diproses di atas tingkat tersebut, atau melebihi jumlah yang dibatasi, harus diencerkan dan disimpan atau dikirim keluar negeri.

Obama dan para negosiator Eropa sengaja hanya membahas masalah nuklir dengan harapan bahwa kesepakatan akan menurunkan ketegangan antara AS dan Iran. Ini memungkinkan program rudal negara itu, dukungan untuk proksi regional, dan masalah lain ditangani di kemudian hari.

Dalam waktu tiga tahun setelah penarikan Trump dari kesepakatan tersebut pada 2018, Iran mulai melanggar ketentuan-ketentuannya. Ketika tim negosiasi AS yang dipimpin oleh utusan khusus Gedung Putih Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner, bertemu dengan para negosiator Iran di Jenewa pada Februari, Iran pertama kali mengusulkan moratorium pengayaan selama tiga hingga lima tahun.

Iran mengatakan akan mengurangi persediaan uranium yang sangat diperkaya ke tingkat yang lebih rendah. Negosiasi tersebut, yang oleh Witkoff disebut tidak serius berakhir tiba-tiba dengan serangan AS dan Israel pada 28 Februari yang memulai konflik saat ini.

"Pihak Iran di Jenewa menyetujui sesuatu yang menurut saya lebih unggul daripada JCPOA," kata Robert Malley, seorang pejabat senior urusan Timur Tengah dan negosiator Iran di bawah dua pemerintahan Demokrat terakhir. "Yang mereka tawarkan adalah pembekuan program pengayaan uranium mereka selama beberapa tahun."

Masih ada celah, kata Malley, dengan Iran mengatakan ingin memperkaya uranium hingga 20 persen untuk reaktor penelitiannya, jauh melebihi yang diizinkan di bawah JCPOA. "Apakah itu tawaran terakhir mereka atau bukan?" katanya. "Siapa yang tahu?" (Washington Post/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya