Iran Tantang Balik Ancaman Trump, Siap Berunding Namun Tolak Tunduk

Thalatie K Yani
13/4/2026 05:29
Iran Tantang Balik Ancaman Trump, Siap Berunding Namun Tolak Tunduk
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan kesepakatan dengan AS mungkin tercapai jika hak Iran dihormati. (Media Sosial X)

HUBUNGAN antara Iran dan Amerika Serikat kembali berada di titik nadir setelah kegagalan negosiasi di Islamabad, Pakistan. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan kesepakatan dengan Amerika Serikat "pasti akan ditemukan" hanya jika pemerintah Amerika menghentikan sikap totalitarianisme dan menghormati hak-hak bangsa Iran.

Pernyataan Pezeshkian ini muncul setelah laporan media Iran mengenai pembicaraannya dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Dalam pembicaraan tersebut, Pezeshkian menyebut kesepakatan dengan AS sebenarnya "bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai."

Respons Keras Teheran Terhadap Donald Trump

Komentar Pezeshkian ini merupakan tanggapan atas pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menuding kegagalan dialog di Islamabad disebabkan keengganan Iran melepaskan ambisi nuklirnya. Trump bahkan sesumbar kepada Fox News bahwa Iran akan kembali dan memberikan semua yang diinginkan pihak Amerika.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang memimpin delegasi negosiasi di Pakistan, memberikan balasan menohok setibanya di Teheran. Ia menegaskan ancaman militer tidak akan mempan terhadap rakyat Iran.

"Jika Anda melawan, kami akan melawan. Jika Anda maju dengan logika, kami akan menanggapi dengan logika," tegas Ghalibaf. Ia menambahkan, "Kami tidak akan tunduk pada ancaman apa pun. Jika mereka menguji tekad kami sekali lagi, kami akan memberi mereka pelajaran yang lebih besar."

Ghalibaf juga mengungkapkan rasa tidak percaya yang mendalam terhadap Washington, mengingat Iran merasa telah diserang dua kali selama proses negosiasi berlangsung dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.

Saling Klaim di Selat Hormuz

Situasi di lapangan semakin memanas seiring dengan pernyataan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Mereka memperingatkan setiap kapal militer yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap melanggar gencatan senjata dan akan "ditindak dengan tegas."

Meskipun Trump sebelumnya mengancam akan melakukan blokade total terhadap kapal yang keluar-masuk selat tersebut, IRGC mengklaim Selat Hormuz tetap terbuka bagi perlintasan damai kapal non-militer di bawah kendali dan peraturan Iran.

Upaya Diplomasi Oman

Di tengah ancaman perang terbuka, Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, mendesak diadakannya perpanjangan gencatan senjata. Oman, yang bertindak sebagai mediator sebelum konflik pecah pada 28 Februari lalu, meminta kedua belah pihak untuk mengutamakan dialog.

Albusaidi mengenang pertemuannya dengan Wakil Presiden AS JD Vance sesaat sebelum perang dimulai, di mana ia menangkap kesan AS sebenarnya ingin menghindari keterlibatan dalam perang.

"Saya mendesak agar gencatan senjata diperpanjang dan pembicaraan dilanjutkan. Keberhasilan mungkin menuntut semua orang untuk membuat konsesi yang menyakitkan, tetapi ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit akibat kegagalan dan perang," ujar Albusaidi melalui unggahan di media sosial X.

Saat ini, status gencatan senjata dua pekan yang diumumkan Trump masih bergantung pada syarat pembukaan penuh Selat Hormuz, sementara kedua negara terus berada dalam posisi siaga tinggi. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya