Iran Tolak Buka Selat Hormuz, Sebut Blokade AS Hambat Dialog

Thalatie K Yani
23/4/2026 05:25
Iran Tolak Buka Selat Hormuz, Sebut Blokade AS Hambat Dialog
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengkritik kemunafikan AS terkait blokade pelabuhan. Ketegangan meningkat setelah Iran menyita dua kapal kargo di Selat Hormuz.(Media Sosial X)

PRESIDEN Iran, Masoud Pezeshkian, melontarkan kritik tajam terhadap Amerika Serikat, menyebut blokade pelabuhan dan ancaman Washington sebagai hambatan utama dalam mewujudkan negosiasi yang tulus. Pernyataan ini muncul di tengah situasi yang kian memanas setelah berakhirnya tenggat awal gencatan senjata.

Melalui unggahan di platform X, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran sebenarnya tetap membuka pintu diplomasi. Namun, ia menilai ada kontradiksi besar antara pernyataan dan tindakan Amerika Serikat di lapangan.

"Dunia melihat retorika munafik Anda yang tak berujung dan kontradiksi antara klaim dan tindakan," tulis Pezeshkian, seraya menambahkan bahwa Iran telah "menyambut dialog dan kesepakatan dan terus melakukannya."

Blokade dan Penutupan Jalur Laut

Komentar Presiden Iran ini merespons kebijakan Presiden AS Donald Trump yang mengumumkan perpanjangan gencatan senjata pada Selasa lalu, namun tetap mempertahankan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Menanggapi situasi tersebut, Kepala Negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz saat ini tidak mungkin dilakukan. Ia menuding AS telah melakukan pelanggaran mencolok terhadap semangat gencatan senjata melalui blokade tersebut.

Ghalibaf bahkan menyebut tindakan Amerika Serikat yang memblokir pelabuhan Iran sama saja dengan menyandera ekonomi global. Ia juga menyoroti peran Israel yang ia nilai melakukan upaya "penyebaran perang" di berbagai lini.

"Mereka tidak mencapai tujuan mereka melalui agresi militer, juga tidak akan berhasil melalui intimidasi. Satu-satunya jalan ke depan adalah mengakui hak-hak rakyat Iran," tegas Ghalibaf dalam pernyataannya.

Diplomasi di Ambang Kebuntuan

Ketegangan ini memberikan pukulan bagi upaya diplomasi yang sedianya dijadwalkan berlangsung pekan ini. Sebelumnya, Ghalibaf diharapkan bertemu dengan Wakil Presiden AS, JD Vance, di Pakistan untuk melakukan pembicaraan tingkat tinggi. Namun, hingga saat ini, pertemuan tersebut dilaporkan belum dimulai.

Situasi di lapangan pun kian pelik. Meski Donald Trump telah mengumumkan perpanjangan gencatan senjata sesaat sebelum masa berlakunya habis, Iran justru mengambil langkah agresif di perairan. Pada Rabu pagi, pihak Teheran mengonfirmasi telah "menyita" dua kapal kargo yang melintas di Selat Hormuz.

Langkah penyitaan ini dipandang sebagai balasan langsung terhadap tekanan ekonomi AS, sekaligus mempertegas posisi Iran yang tidak akan melunak selama blokade pelabuhan tetap diberlakukan. Kini, mata dunia tertuju pada langkah diplomasi selanjutnya di Pakistan yang diharapkan mampu meredakan eskalasi sebelum konflik terbuka kembali pecah. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya