Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan pembukaan kembali Selat Hormuz "tidak mungkin dilakukan" saat ini. Langkah tegas ini diambil sebagai respons atas apa yang disebutnya sebagai pelanggaran mencolok terhadap gencatan senjata oleh Amerika Serikat dan Israel.
Melalui unggahan di platform X pada Rabu, Ghalibaf menyoroti blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Ia menilai tindakan tersebut merupakan bentuk upaya AS menyandera ekonomi global. Selain itu, ia mengecam tindakan Israel yang dianggap memicu peperangan di berbagai lini.
Meski Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan tetap terbuka terhadap negosiasi, ia menekankan adanya hambatan besar dari pihak lawan. "Pelanggaran komitmen, blokade, dan ancaman adalah hambatan utama bagi negosiasi yang tulus," tegas Pezeshkian.
Rencana pembicaraan damai di Pakistan yang dijadwalkan pekan ini pun belum menunjukkan tanda-tanda dimulai. Wakil Presiden AS, JD Vance, yang dijadwalkan memimpin delegasi Amerika, dilaporkan masih berada di negaranya.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump telah memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu. Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyebut Trump "puas" dengan blokade laut yang sedang berlangsung karena menganggap posisi Iran kian melemah.
Situasi di jalur pelayaran vital dunia tersebut kian genting. Iran mengumumkan telah menyita dua kapal kargo, yakni MSC Francesca dan Epaminondas, untuk keperluan "inspeksi". Garda Revolusi Iran (IRGC) menuduh kapal-kapal tersebut beroperasi tanpa izin dan mencoba mematikan sistem navigasi untuk keluar dari selat secara diam-diam.
Rekaman dramatis yang dirilis kantor berita Tasnim memperlihatkan pasukan komando Iran menyerbu kedua kapal tersebut. Sementara itu, satu kapal lainnya milik Uni Emirat Arab, Euphoria, dilaporkan turut diserang namun berhasil melanjutkan pelayaran dan berlabuh di dekat pelabuhan Khor Fakkan.
Menariknya, Gedung Putih menyatakan tidak menganggap penyitaan kapal tersebut sebagai pelanggaran gencatan senjata karena kapal yang disita bukan milik AS maupun Israel.
Di tengah krisis ini, dinamika mengejutkan terjadi di internal militer AS. Departemen Pertahanan mengumumkan pengunduran diri Sekretaris Angkatan Laut AS, John Phelan, yang berlaku "segera".
Pihak Pentagon tidak memberikan alasan di balik pencopotan Phelan. Jabatan tersebut untuk sementara akan diisi oleh Wakil Sekretaris Angkatan Laut, Hung Cao. Langkah ini menambah daftar panjang perombakan petinggi militer AS setelah sebelumnya Kepala Staf Angkatan Darat, Randy George, diminta mundur oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Strategi AS saat ini tampaknya lebih condong pada tekanan ekonomi melalui blokade tanpa batas waktu, guna memaksa pihak pragmatis di Iran mengajukan proposal perdamaian tanpa memicu konfrontasi militer skala penuh yang berisiko mengganggu pasar global. (BBC/Z-2)
IHSG ditutup melemah 0,48% ke level 7.072,39 pada Selasa (28/4/2026) akibat ketidakpastian konflik AS-Iran dan penantian hasil rapat FOMC The Fed.
AS sita kapal kargo Iran di tengah blokade Selat Hormuz. Meski situasi memanas, sinyal perundingan damai di Pakistan mulai menguat. Akankah Iran hadir?
Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan Iran jika Teheran menolak kesepakatan baru dari Washington.
Kondisi itu memperkuat kekhawatiran akan pecahnya kembali peperangan seiring dengan berakhirnya masa gencatan senjata pada Rabu mendatang.
Menurutnya, krisis tersebut dipicu oleh AS yang dinilai semakin unilateral dan berbasis kekuatan, dengan tujuan mempertahankan dominasi global.
Putin dan Pezeshkian telah berbicara via telepon sebanyak tiga kali sejak 28 Februari.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengkritik kemunafikan AS terkait blokade pelabuhan. Ketegangan meningkat setelah Iran menyita dua kapal kargo di Selat Hormuz.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya sikap waspada dalam menghadapi pihak lawan.
Di sisi lain, pemerintahan Trump menyatakan bahwa mencegah Iran memperoleh senjata nuklir merupakan tujuan utama dalam kebijakan luar negeri mereka.
Ia mengabaikan blokade AS di Selat Hormuz, dengan mengatakan bahwa tindakan tersebut justru akan menimbulkan masalah bagi AS, bukan Iran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved