Negosiasi Iran-AS Masih Buntu, Potensi Perang Kembali Terbuka

Khoerun Nadif Rahmat
19/4/2026 17:34
Negosiasi Iran-AS Masih Buntu, Potensi Perang Kembali Terbuka
bendera Iran dan AS(X)

NEGOSIASI antara Iran dan Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah mengalami kemajuan, namun kedua belah pihak masih terpaut jarak yang sangat jauh untuk mencapai kesepakatan.

Kondisi itu memperkuat kekhawatiran akan pecahnya kembali peperangan seiring dengan berakhirnya masa gencatan senjata pada Rabu mendatang.

Ketua Parlemen sekaligus negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa meski terdapat "kemajuan" dengan pihak AS, masih banyak celah dan beberapa poin fundamental yang tersisa. Menurutnya, Iran masih jauh dari diskusi final untuk mencapai kesepakatan yang komprehensif.

Nada keras juga datang dari Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, yang menegaskan bahwa Presiden AS Donald Trump tidak memiliki pembenaran untuk merampas hak nuklir Teheran.

"Trump mengatakan Iran tidak dapat memanfaatkan hak nuklirnya, tetapi tidak mengatakan karena kejahatan apa. Siapa dia hingga bisa merampas hak suatu bangsa?" tegas Pezeshkian sebagaimana dikutip dari ISNA.

Masa depan program nuklir Iran dan status Selat Hormuz menjadi poin krusial yang mengganjal jalannya perundingan. Situasi memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) kembali memberlakukan pembatasan di Selat Hormuz, hanya berselang 24 jam setelah jalur tersebut dibuka.

Langkah itu diambil sebagai respons atas blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran yang masih berlangsung. Ghalibaf menyebut blokade Washington sebagai tindakan "bodoh" dan "bebal".

Ia memperingatkan bahwa Teheran tidak akan membiarkan pihak lain melintasi selat tersebut jika kapal-kapal Iran sendiri diblokade. Ia memastikan bahwa militer Iran berada dalam kesiapan penuh jika AS memutuskan untuk kembali melanjutkan permusuhan sewaktu-waktu.

Di sisi lain, Donald Trump memberikan pernyataan yang beragam. Ia menuduh Iran "bertingkah" di Selat Hormuz dan menegaskan AS tidak akan bisa "diperas".

Namun, ia juga mengklaim bahwa kontak antara pejabat kedua negara terus berjalan dan negosiasi berlangsung dengan sangat baik. Meski begitu, Trump sempat melontarkan ancaman bahwa AS harus "mulai menjatuhkan bom lagi" jika tidak ada kesepakatan yang dicapai hingga batas waktu gencatan senjata berakhir.

Upaya mediator untuk mendorong putaran kedua pembicaraan damai di Islamabad pun masih menemui jalan buntu. Wakil Menteri Luar Negeri Iran menyatakan bahwa jadwal pertemuan belum bisa ditentukan sebelum kedua belah pihak menyepakati "kerangka pemahaman". Pihak Teheran menuduh Washington tetap mempertahankan sikap "maksimalis" yang menyulitkan tercapainya titik temu.

Pengamat dari Centre for Middle East Strategic Studies, Abbas Aslani, menilai Iran kini menghadapi jalur ganda antara negosiasi dan tekanan militer. Ia mempertanyakan kesungguhan AS dalam mencari kesepakatan di tengah kebijakan blokade laut dan peningkatan kehadiran militer di kawasan tersebut.

Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda atau pembicaraan mengenai perpanjangan masa gencatan senjata yang akan segera kedaluwarsa tersebut. (Ndf/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya