Kelangkaan Solar Ancam Negara-Negara Uni Eropa

Andhika Prasetyo
11/4/2026 06:29
Kelangkaan Solar Ancam Negara-Negara Uni Eropa
ilustrasi(Antara)

Kepala International Energy Agency, Fatih Birol, memperingatkan potensi kekurangan pasokan solar dan kerosin (minyak tanah) di Eropa dalam beberapa pekan ke depan apabila situasi di Timur Tengah tidak segera stabil.

Dalam wawancara dengan majalah Der Spiegel, Birol menegaskan bahwa kelangkaan bahan bakar tersebut tidak akan terjadi secara instan, namun bisa mulai dirasakan dalam waktu dekat jika gangguan pasokan terus berlanjut.

“Jika situasinya tidak membaik, solar dan kerosin dapat segera menjadi langka di Eropa. Tidak langsung, tetapi dalam beberapa minggu ke depan,” kata Birol.

Sebelumnya, pada awal April, Birol menyebut bahwa Eropa hanya memiliki cadangan kerosin yang cukup untuk sekitar dua bulan apabila pengiriman dari Timur Tengah benar-benar terhenti akibat eskalasi konflik di kawasan tersebut.

Ia menjelaskan bahwa sebelum konflik meningkat, Eropa sangat bergantung pada pasokan solar dan kerosin dari kilang di Timur Tengah. Namun dalam beberapa pekan terakhir, banyak depot bahan bakar di Eropa dilaporkan mulai kosong, memperbesar risiko krisis energi.

“Jika produksi global solar dan kerosin tidak segera pulih, situasinya bisa menjadi kritis bagi beberapa negara Eropa pada bulan Mei,” tambah Birol.

Di tengah tekanan harga energi yang tinggi, Birol juga menyarankan langkah efisiensi, khususnya bagi Jerman. Ia menilai pemerintah Jerman perlu mempertimbangkan kebijakan pembatasan kecepatan di jalan raya sebagai salah satu upaya menekan konsumsi bahan bakar.

Selain itu, Birol menilai keputusan Jerman untuk menghentikan penggunaan energi nuklir merupakan kesalahan strategis dalam konteks krisis energi saat ini.

“Tetapi begitulah yang terjadi dan membangun pembangkit nuklir besar seperti sebelumnya akan memakan waktu lama dan biaya yang mahal. Sebagai gantinya, Jerman dapat mempertimbangkan penggunaan reaktor modular kecil,” ucapnya.

Sebagaimana diketahui, pada 2011 pemerintah Jerman di bawah kepemimpinan Angela Merkel memutuskan untuk menghentikan seluruh pembangkit listrik tenaga nuklir secara bertahap hingga 2022. Kebijakan tersebut diambil setelah terjadinya Kecelakaan Nuklir Fukushima di Jepang.

Pada 2022, hanya tersisa tiga pembangkit nuklir yang masih beroperasi, yakni Isar 2, Neckarwestheim 2, dan Emsland. Ketiganya sempat diperpanjang operasinya hingga pertengahan April 2023 akibat gangguan pasokan gas dari Rusia, sebelum akhirnya ditutup secara permanen.

Sementara itu, perkembangan geopolitik menunjukkan adanya upaya meredakan ketegangan. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Selasa (7/4) menyatakan telah menyetujui gencatan senjata bilateral selama dua pekan dengan Iran.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Rabu (8/4) memastikan bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka. Jalur ini sangat vital karena menangani sekitar 20 persen distribusi global minyak, produk minyak bumi, dan gas alam cair (LNG).

Meski demikian, ketidakpastian masih membayangi pasar energi global. Tanpa pemulihan produksi dan distribusi yang cepat, Eropa berisiko menghadapi tekanan pasokan energi yang semakin berat dalam waktu dekat. (Ant/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya