Trump Klaim Fasilitas Minyak Iran Akan Meledak Akibat Blokade AS

Thalatie K Yani
27/4/2026 06:17
Trump Klaim Fasilitas Minyak Iran Akan Meledak Akibat Blokade AS
Pulau Kharg(Media Sosial X)

PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait efektivitas blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Trump mengeklaim penghentian distribusi minyak secara paksa tersebut akan menyebabkan fasilitas minyak Iran meledak dalam waktu tiga hari karena kendala mekanis dan geologis.

Pernyataan ini disampaikan Trump dalam wawancara telepon di program "The Sunday Briefing" Fox News. Menurutnya, tersumbatnya aliran minyak dalam sistem pipa tanpa adanya wadah penampung atau kapal pengangkut akan memicu tekanan internal yang merusak.

"Ketika Anda memiliki, Anda tahu, aliran minyak dalam jumlah besar yang mengalir melalui sistem Anda, jika karena alasan apa pun aliran itu ditutup karena Anda tidak dapat terus memasukkannya ke dalam wadah atau kapal, yang telah terjadi pada mereka; mereka tidak memiliki kapal karena blokade, apa yang terjadi adalah aliran itu meledak dari dalam, baik secara mekanis maupun di dalam bumi," ujar Trump.

Trump menambahkan menurut informasi yang ia terima, Iran hanya memiliki waktu sekitar tiga hari sebelum bencana tersebut terjadi. Ia bahkan mengeklaim jika ledakan itu terjadi, fasilitas tersebut tidak akan pernah bisa dibangun kembali seperti semula.

Bantahan Para Pakar

Namun, klaim tersebut segera mendapat tanggapan skeptis dari para ahli industri energi. Pakar yang diwawancarai CNN menilai Presiden Trump terlalu melebih-lebihkan dampak yang terjadi ketika sebuah negara produsen minyak tidak lagi dapat melakukan ekspor.

Fasilitas minyak Iran dinilai kecil kemungkinannya untuk meledak secara spontan karena banyak dari fasilitas tersebut sebenarnya telah dimatikan atau dikurangi aktivitasnya secara prosedural.

Andy Lipow dari Lipow Oil Associates menjelaskan dalam praktik industri, ketika kapal tanker tidak lagi tersedia untuk memuat hasil produksi, maka penyimpanan di darat akan mulai terisi penuh. Jika tangki penyimpanan penuh, maka produsen akan mulai memotong atau menghentikan produksi.

"Hal itu sudah terjadi di Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Sejauh ini, tidak ada ledakan dalam hal ini," kata Lipow melalui surat elektronik kepada CNN.

Meskipun demikian, Lipow memberikan catatan penutupan sumur minyak secara mendadak memang bisa membawa dampak jangka panjang. Hal tersebut berpotensi menurunkan tingkat produksi minyak di masa depan saat fasilitas tersebut nantinya dibuka kembali. Namun, ia menegaskan kembali satu hal utama terkait klaim Trump.

"Pada akhirnya, minyak itu tidak akan meledak," pungkas Lipow. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya